gravatar

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TANAMAN ACARA II. PENGARUH DOSIS PEMUPUKAN DAN WAKTU PENYIANGAN TERHADAP POLA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN


LAPORAN PRAKTIKUM

EKOLOGI TANAMAN

ACARA II. PENGARUH DOSIS PEMUPUKAN DAN WAKTU PENYIANGAN TERHADAP POLA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN






                                                                             








Oleh:
Widdi Setiawan
NIM  A1L008090






KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2011





I.             PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Adaptasi adalah setiap sifat atau bagian yang dimiliki oleh organisme yang berguna bagi kelanjutan hidupnya pada keadaan sekeliling habitatnya. Sifat-sifat tersebut memungkinkan organisme atau tanaman mampu menggunakan lebih baik unsur-unsur yang tersedia (hara, air, suhu, cahaya juga sifat resistensi terhadap pengganggu/penyakit atau hama). Tamanan dapat mempunyai adaptasi morfologis seperti kekuatan batang atau bentuk tanaman dan adaptasi fisiologis yang menghasilkan ketahanan parasit, kemampuan yang lebih besar dalam mengambil unsur-unsur hara atau tahan terhadap kekeringan. Sebetulnya perbedaan yang jelas tidak ada karena keduanya sama-sama menggambarkan proses fisiologis. Jadi adaptasi dapat dinyatakan sebagai kemampuan individu untuk mengatasi keadaan lingkunggan dan menggunakan sumber-sumber alam lebih baik untuk mempertahankan hidupnya dalam relung (nisia, niche) yang diduduki.
    Keadaan lingkungan disini berarti keadaan yang terus menerus berubah selama pertumbuhan tanaman berlangsung. Hal ini berarti setiap organisme mempunyai adaptasi untuk dihup pada berbagai macam keadaan lingkungan. Dengan demikian berarti organisme (setiap makhluk hidup) merupakan hasil keturunan biologi dalam lingkungannya. Johannsen (1903) memberikan istilah genotipe untuk sifat-sifat keturunan yang diterima organisme yang relatif konstan selama hidupnya. Sedang fenotipe untuk rupa atau bentuk organisme yang akan selalu mengalami perubahan.


B.    Tujuan
Untuk menganalisis distribusi dan jenis tanaman yang di budidayakan berdasarkan tingkat ketinggian tempat berbeda serta pengamatan terhadap faktor-faktor lingkunganya





























II.           METODE PRAKTIKUM

A.    Alat dan bahan
 Kendaraan motor, alimeter, lux meter, termometer dan alat tulis
B.    Prosedur kerja
        Praktikan akan di tunjukkan hamparan lahan pertanian ( luas ) kemidia di amati dan diperoleh data.
        Variabel yang di aati adalah ketinggian tempat, suhu, kembapan, intensitas cahaya, jenis tanaman, permasalahn yag mungkin muncul.




















III.         HASIL PENGAMATAN

Perhitungan Chi Square
Luas tanaman padi                    =          1836000 cm2 ® 50% 1818000
Luas tanaman albasia                =          1800000 cm2 ® 50% 1818000

No
Kategori
Y
Fo
Fc
1
Padi
50
1836000
1818000
2
Albasia
50
1800000
1818000

Xc2        = [(Xi – n Po)-½]2  +  [(Xii – n (1 - Po))-½] 2
                         nPo                            n (1 - Po)
            = [(1836000 – 1800000) – 0,5]2 + [(1800000 – 1818000) – 0,5] 2
                          1818000                                1818000
            = (18000-0,5)+ (-18000-0,5)
               1818000            1818000
            = 323982000     + 324018000,25
               1818000            1818000
            = 178,207          + 178,227
            = 356,434

Ho = Fe = Fo
H1 = Fe ≠ Fo
Xc2 = Tabel X2 (5%,1) = 3, 891
Xc2 > X2 (5%,1)
H1 diterima, jadi dugaan itu salah













IV.          PEMBAHASAN


Fitogeografi merupakan ilmu yang banyak mempelajari tentang distribusi tumbuhan dari mulai kontrol distribusi individual hingga faktor-faktor yang memengaruhi total komunitas dan semua tumbuh-tumbuhan. Fitogeografi dibagi menjadi dua bidang utama, yaitu fitogeografi ekologi dan fitogeografi historical. Fitogeografi ekologi menerangkan bagaimana peranan komponen biotik dan abiotik dalam memengaruhi persebaran tumbuhan. Fitogeografi historical fokus pada pembelajaran mengenai rekonstruksi dari sejarah persebaran dan kepunahan dari taksa tumbuha tertentu.
Distribusi Tumbuhan
Tumbuhan di dunia ini sangat beraneka distribusinya. Ada tiga kategori persebaran tumbuhan yang ada, yaitu kosmopolit, endemik, dan diskontinyu (terputus-putus).
a. Tumbuhan kosmopolit
Tumbuhan kosmopolit merupakan tumbuhan yang memiliki area persebaran hampir seluruh daerah di dunia. Salah satu contoh adalah distribusi dari famili tumbuhan Zingiberaceae yang hampir terdapat pad seluruh daerah beriklim tropis.
b. Tumbuhan endemik
Endemik merujuk pada individu dengan persebaran yang sangat terbatas pada suatu kawasan geografi yang unik, misal suatu pulau, danau, negara atau suatu habitat tertentu di suatu daerah. Tumbuhan yang memiliki endemisitas tinggi rawan mengalami kepunahan kalau keberadaannya terkena gangguan baik dari alam atau manusia. Salah satu contoh tumbuhan endemik adalah bunga Rafflesia arnoldi yang secara alami hanya ditemukan di daerah pegunungan dari Provinsi Bengkulu.
c. Tumbuhan diskontinyu
Kelompok tumbuhan yang memiliki persebaran diskontinyu adalah tumbuhan-tumbuhan yang sebenarnya berhubungan secara kerabat akan tetapi terpisah pada lokasi yang sangat jauh secara geografik. Penyebab tumbuhan memiliki distribusi yang diskontinyu adalah adanya fragmentasi area dan habitat serta adanya mekanisme dispersal. Salah satu contoh tumbuhan diskontinyu adalah Notofagus, yang terdapat di Afrika Selatan dan Australia-Papua-Selandia Baru.

Distribusi tumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain iklim, tanah dan nutrien, dan kompetisi. Konsep persebaran tumbuhan lebih muda dipahami dengan konsep kemampuan adaptasi tumbuhan. Salah satu teori terkait kebutuhan tumbuhan terkait nutrisi adalah Hukum Minimum Liebig, yang menyatakan bahwa kemampuan hidup tumbuhan sangat dibatasi oleh faktor lingkungan yang kadarnya paling kecil.
Hukum Liebig tersebut memunculkan pengetahuan mengenai kemampuan toleransi dari tumbuhan. Kemampuan tumbuhan dalam bertoleransi terhadap keadaan lingkungan dibagi menjadi dua macam, yaitu eurytopic dan dan stenotopic. Eurytopic merupakan kelompok tumbuhan yang memiliki wilayah toleransi yang luas, sedangkan stenotopic merupakan kelompok tumbuhan dengan kemampuan toleransi yang areanya sempit.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi distribusi tumbuhan.
a. Central of origin
Central of origin merupakan daerah dimana tumbuhan asli berasal. Salah satu pendapat mengatakan bahwa center of origin dapat dilihat dari daerah dengan keanekaragaman taksa tumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya.
b. Dispersal
Dalam kehidupan hewan, sering dikenal adanya migrasi, akan tetapi tumbuhan tidak memiliki kemampuan migrasi, melainkan hanya kemampuan untuk penyebaran biji yang sering dikenal dengan istilah dispersal. Penyebaran biji pada tumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain adanya angin, air, serangga, dan makhluk hidup lain termasuk manusia.
c. Resiliensi: Elastisitas dan Amplitudo Ekologi
Resiliensi merupakan kemampuan suatu sistem tumbuhan untuk kembali ke kondisi awal setelah adanya gangguan. Resiliensi mencakup elastisitas dan amplitudo ekologi. Elastisitas menyatakan seberapa cepat tumbuhan kembali ke kondisi semula. Amplitudo ekologi merupakan perkiraan bagaimana suatu sistem (tumbuhan) dapat kembali ke kondisi sebelumnya dan kembali lagi.
d. Ekotipe
Ekotipe merupakan salah satu respon geneti tumbuhan terhadap suatu habitat tertentu. Ekotipe dapat digunaka untuk menjelaskan spesies yang bervariasi jelas dari segi geografi, populasi yang jarang, yang teradaptasi terhadap suatu kondisi lingkungan spesifik. Ekotipe biasanya akan memunculkan perbedaan fenotip dalam suatu spesies atau taksa tumbuhan.


    Hasil pengamatan praktikum ekologi kali ini di peroleh dengan cara mengamati distribusi sebaran vegetasi di sekitar daerah dengan ketinggian antara 180 mdp- 510 mdpl. Pengabilan sampel di lakukan dengan membagi 3 daerah yaitu daerah bawah, tengah dan atas
a.    Bawah
Daerah ini memiliki ketinggian 180 mdpl dengan suhu 27 C dan kelembapan 40 %. Pada tegakan tinggi intensitas cahaya berkisar 1573 lux dan pada tegakan rendah 580 lux. Warna tanah rata-rata berwarna cokelat yang mencirikan daerah tersebut masih memiliki kandungan unsur hara dan bahan organik yang tinggi. Sebaran tanaman yang diperoleh yaitu pisang, albasia, kelapa, talas tebu, singkong. Nangka, jati turi, jagung, cabai, katuk, waru, padi, kunyit, bawang daun, petai cina.
Tanaman yang dominan pada daerah bawah yaitu tanaman padi dengan daerah sebaran 0,5 ha. Padi di tananam dengan sistem monokultur sedangkan jagung di tumpang sarikan dengan cabai, albasia juga mengguanakan siste tanam monokultur. Sistem irigasi menggunakan sistem irigasi nonteknis. Hama yang menyerang pada padi yaitu keong dan wereng. Di daerah tersebut juga terdapat kolam gurame seluas 42 m2



b.    Tengah
Daerah tengah memiliki ketinggia berkisar 250 mdpl dengan suhu 25 Cm kelembapan 23 %, itensitas pada tegakan tinggi 1578 lux dan 477 lux pada tegakan rendah saat pengamatan.
Sebaran vegatasi yang terdapat di daerah tengah yaitu kelapa, padi, talas, pisang, albasia, salak, duku, durian, cokelat, kayu aro, melinjo, singkong, kakao, da cemara. Jumlah areal padi berkisar 183,6 m2, albasia 180 m2 kelapa 540 m2 ( 15 tanaman ), talas 30 tanaman.
Sistem pertanaman yaitu dengan tumpangsari padi dengan tlas dan kebun campur. Serangan hama dan penyakit di daerah tengah yaitu karat puru dan keong emas.
c.    Atas
Daerah atas memilik ketinggain berkisar antara 510 mdpl dengan suhu 24 C dan kelembapan 27 %. Itensitas cahaya pada tegakan tinggi 264 lux dan intensitas cahaya pada tegakan rendah 38 lux pada saat pengamatan. Tanah di daerah atas masih berwarna cokelat tetapi lebih kecoklat tua an di banding dengan tengah dan bawah.
Sebarang vegetasinya hampir sama dengan tengah dan bawah yaitu kelapa, pisang, albsia, singkong, padi, talas, cabai, jagung.
Sistem pertanaman di daerah atas yaitu dengan sistem monokultur pada padi dan kebun campur dengan Sistem irigasi masih non teknis. Serangan hama dan penyakit juga hampir sama dengan daerah bawah dan atas yaitu walang sangit dan hama burun.

Dari hasil perhitungan chi square dapat disimpulkan bahwa jumlah atau areal pertanaman padi dan albasia memiliki nilai yang hampir sama. Hal ini di karenakan masih banyaknya petani yang enggan menggarap lahan mereka untuk pertanaman atau budidaya tanaman musiman karena perawatan yang sulit atau waktu pemeliharaan yang tidak ada sehingga di tanam tanaman tahunan yang perawatannya lebih mudah. Selain itu tanaman tanaman padi juga masih mendominasi areal pengamatan hal ini dikarenakan lahan sawah yang masih produktif dan di irigasi yang masih bisa di gunakan untuk memenuhi kebutuhan air.




























KESIMPULAN

1.       Adaptasi adalah setiap sifat atau bagian yang dimiliki oleh organisme yang berguna bagi kelanjutan hidupnya pada keadaan sekeliling habitatnya. Sifat-sifat tersebut memungkinkan organisme mampu menggunakan lebih baik unsur-unsur yang tersedia.
2. Faktor-faktor penentu adaptasi dan koefisien seleksi antara lain vigor somatik individu, daya tumbuh, lamanya periode reproduksi, banyaknya keturunan, efisiensi mekanisme pollinasi.
3. Distribusi vegetasi: Kehadiran setiap organisme pada suatu habitat adalah hasil perpeduan dengan keadaan lingkungan setempat. Penyebaran vegetasi dapat secara alami yaitu perubahan geologis dari iklim jaman dahulu sampai sekarang dan oleh kegiatan manusia.
5. Tipe penyebaran vegetasi: Artik Alpine, temperate, pantropik, endemik luas, emdemik sempit, terputus.
















DAFTAR PUSTAKA

-       Anonim, 2009. Distribusi  dan pola penyebaran vegetasi tanaman. http://fp.uns.ac.id/~hamasains/ekotan%204.htm di akses tanggal 14 juni 2011 pukul 02:14 WIB
-       Animous,2011. Distribusi tanaman. http://www.nuryety.co.cc/2010/03/adaptasi-dan-distribusi-tanaman.html
Diakses tanggal 14 juni 2011 pukul 09.24 WIB
-       Animous, 2010. Keanekaragaman hayati. http://koleksiperpusunsri.web.id/index.php?p=show_detail&id=3562
Diakses tanggal 14 juni 2011 pukul 09.25 WIB

Read More...
gravatar

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TANAMAN . PENGARUH DOSIS PEMUPUKAN DAN WAKTU PENYIANGAN TERHADAP POLA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN


  LAPORAN PRAKTIKUM

EKOLOGI TANAMAN

ACARA I. PENGARUH DOSIS PEMUPUKAN DAN WAKTU PENYIANGAN TERHADAP POLA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN






                                                                             








Oleh:
Widdi Setiawan
NIM  A1L008095






KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2011




I. PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Bayam merupakan sayuran yang telah lama dikenal dan dibudidayakan secara luas oleh petani di seluruh wilayah Indonesia, bahkan di negara lain. Penyebaran tanaman bayam di Indonesia telah meluas ke seluruh wilayah, tetapi sampai saat ini pulau Jawa merupakan sentra produksinya. Hampir semua orang mengenal dan menyukai kelezatan bayam. Rasanya enak, lunak, dapat memberikan rasa dingin dalam perut dan dapat memperlancar pecernaan. Umumnya tanaman bayam dikonsumsi bagian daun dan batangnya (Bandini dan Azis,2001).
          Bayam (Amaranthus sp.) berasal dari Amerika tropik. Oleh karenanya, penyebaran tanaman ini banyak di daerah-daerah beriklim tropik, termasuk Indonesia. Walaupun demikian, sayuran ini juga menyebar ke daerah beriklim sedang. Tanaman bayam mempunyai atau sumber zat besi. Namun, sayuran ini juga banyak mengandung vitamin A dan mineral lain, yaitu kalsium (Ca). Jumlah kalori yang dikandungnya adalah 36 kalori per 100 g bahan (Novary,1997).
Bayam sebaiknya ditanam pada tanah yang gembur dan cukup subur. Apalagi untuk bayam cabut, tekstur tanah yang berat akan menyulitkan produksi dan panennya. Tanah netral ber-pH antara 6 – 7 paling disukai bayam untuk pertumbuhan(Nazaruddin,2000).
          Tanah yang subur dan bertekstur gembur serta banyak mengandung bahan organik paling disukai tanaman bayam. Pada tanah yang tandus dan liat, bayam masih dapat tumbuh dengan baik jika dilakukan penambahan bahan organik yang cukup banyak. Pada tanah yang ber-pH dibawah kisaran 6-7, tanaman bayam sukar tumbuh. Tanaman akan menunjukkan pertumbuhan yang merana bila pH tanah dibawah 6. Begitu pula pada pH diatas 7, tanaman akan mengalami gejaja klorosis (warna daun menjadi putih kekuning-kuningan terutama pada daun-daun yang masih muda). Jenis bayam tertentu masih dapat tumbuh pada tanah-tanah alkalin (basa). Tanaman bayam tidak memilih jenis tanah tertentu (Murtensen and Bullard, 1970).
Kangkung merupakan tanaman yang tumbuh cepat yang memberikan hasil dalam waktu 4-6 minggu sejak dari benih. Kangkung yang dikenal dengan nama Latin Ipomoea reptans terdiri dari 2 (dua) varietas, yaitu Kangkung Darat yang disebut Kangkung Cina dan Kangkung Air yang tumbuh secara alami di sawah
Bagian tanaman kangkung yang paling penting adalah batang muda dan pucuk-pucuknya sebagai bahan sayur-mayur. Kangkung selain rasanya enak juga memiliki kandungan gizi cukup tinggi, mengandung vitamin A, B dan vitamin C serta bahan-bahan mineral terutama zat besi yang berguna bagi pertumbuhan badan dan kesehatan. Disamping itu hewan juga menyukai kangkung bila dicampur dalam makanan ayam, itik, sapi, kelinci dan babi.
        Seorang pakar kesehatan Filipina: Herminia de Guzman Ladion memasukkan kangkung dalam kelompok "Tanaman Penyembuh Ajaib", sebab berkhasiat untuk penyembuh penyakit "sembelit" juga sebagai obat yang sedang "diet". Selain itu, akar kangkung berguna untuk obat penyakit "wasir"
Kangkung darat menghendaki tanah yang subur, gembur banyak mengandung bahan organik dan tidak dipengaruhi keasaman tanah.
Tanaman kangkung darat tidak menghendaki tanah yang tergenang, karena akar akan mudah membusuk. Sedangkan kangkung air membutuhkan tanah yang selalu tergenang air.
Tanaman kangkung membutuhkan tanah datar bagi pertumbuhannya, sebab tanah yang memiliki kelerengan tinggi tidak dapat mempertahankan kandungan air secara baik.


B. Tujuan

Tujuan dari praktikum “pengaruh dosis pemupukan dan waktu penyiangan terhadap pola pertumbuhan dan hasil tanaman” adalah untuk mengetahui pola pertumbuhan dan hasil tanaman berdasarkan dosis pemupukan dan waktu penyiangan.



II.   METODE PRAKTIKUM

A.    Bahan dan Alat
1.    Bahan
a.    Benih kangkung
b.    Benih bayam
c.    Pupuk N, P, K, Furadan

2.    Alat
a.    Alat pengukur curah hujan
b.    Alat pengukur suhu
c.    Alat pengukur intensitas cahaya
d.    Alat pengukur kelembaban
e.    Alat tulis
f.     Penggaris

B.    Prosedur Kerja
1.    Penanaman dilakukan pada tanggal 2 mei 2011, bedengan ukuran 1m x 1m.
2.    Penanaman kangkung dan bayam, di petak yang berbeda dengan jarak tanam 20 x 20 cm, dengan 20 tanaman per petak dan 9 tanaman dalam petak efektif.
3.    Dosis pemupukan menggunakan (0,  , , , 1x dosis anjuran).
4.    Waktu penyiangan disiang penuh, 3 hari sekali, dan 6 hari sekali).
5.    Pemupukan dilakukan 2x yaitu 7 hst (N,P, K) dan 14 hst (N, K).
Bayam
Umur
Urea
SP
KCl

Kg/ha/musim tanam
7 hst
56
250
90
14 hst
56

90




Kangkung
Umur
Urea
SP
KCl

Kg/ha/musim tanam
7 hst
187
311
112
14 hst
187

112
6.    Variabel pengamantan:
Kangkung: tinggi tanaman (3 hari 1x), jumlah daun (6 hari), bobot tanaman segar, panjang ruas, diameter batang, panjang tangkai daun.
Bayam: tinggi tanaman (3 hari 1x), jumlah daun (6 hari), diameter tanaman, bobot daun segar per tanaman, bobot segar tanaman per polibag, pengukuran luas daun.
7.    Diamati kondisi umum lingkungan setiap hari dan persentase serangan hama dan penyakit.


















C.   HASIL PENGAMATAN































D.   PEMBAHASAN

1.    Bayam

Pemupukan
             Pupuk Nitrogen (N0 diserap tanaman dalam bentuk ion nitrat (NO3-) dan ion ammonium (NH4+). Nitrogen tidak tersedia dalam bentuk mineral alami seperti unsur hara lainnya. Jika terjadi kekurangan (defisiensi) nitrogen, tanaman tumbuh lambat dan kerdil. Daunnya berwarna hijau muda. Nitrogen juga dibutuhkan untuk senyawa penting seperti klorofil, asam nukleat, dan enzim. Karena itu nitrogen dibutuhkan dalam jumlah besar pada setiap tahap pertumbuhan tanaman, khususnya pembentukan tunas atau perkembangan batang dan daun. Tanpa suplai nitrogen cukup, pertumbuhan tanaman baik tidak akan terjadi. Kekurangan unsur hara N akan menunjukkan gejala pada tanaman seperti pertumbuhan yang kerdil, pertumbuhan akar terbatas, daun menjadi warna kuning pucat. Kuningnya warna daun dimulai dari daun tua baru kemudian pada daun muda
              Kadar P dalam pupuk dinyatakan dalam P2O5. Unsur P diserap tanaman dalam bentuk H2PO4- atau HPO42-. Penyerapan pupuk ini oleh tanaman memerlukan waktu cukup lama seperti pupuk alam yang lain. Posfor berperan penting dalam transfer energi di dalam sel tanaman, misalnya ADD, ATP, beperan dalam pembentukan membran sel terutama terhadap stabilitas struktur dan informasi makromolekul. Bila tanaman kekurangan hara P, maka berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, seperti pertumbuhan yang kerdil, hal ini terjadi karena pembelahan sel terganggu. Warna daun berubah menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung-ujung daun. Hal yang semacam ini jelas terlihat pada tanaman yang masih muda (Rosmarkam & Yuwono, 2002).
Kalium diserap oleh tanaman dalam bentuk K+. Tanah mengandung 400 – 500 kg kalium untuk setiap 93 m2. Kalium berperan dalam efisiensi penggunaan air, meningkat ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit, memperbaiki ukuran dan kualitas buah pada masa generatif, menambah rasa manis pada buah, memperluas pertumbuhan akar. Gejala kekurangan kalium adalah daun mulai kelihatan lebih tua, batang dan cabang lemah dan mulai rebah, biji buah kusut dan muncul warna kuning di pinggir dan di ujung yang sudah mengering dan rontok. Unsur hara K di dalam tubuh tanaman bersifat agak mobil, sehingga gejala kekurangannya lebih cepat terlihat pada daun-daun tua, karena K pada daun tua disedot ke daun-daun muda. Karena salah satu fungsi K dalam pembentukan pati dan sebagai transportasi karbohidrat hasil fotosintesis, maka bila tanaman kekurangan K daun akan bercak-bercak coklat seperti terbakar. Warna coklat bermula dari pinggir daun dan menuju tulang-tulang daun
.
          Hasil pengamatan pada diameter batang bayam di peroleh notasi sebagai berikut
P0 = 0.5250 b
P1 = 0,6917 b
P2 = 0, 8283 b
P3 = 0,9392 b
P4 = 2,5647 a.
Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan P4 berbeda nyata terhadap lingkaran diameter batang di bandingkan dengan P0,P1,P2 Dan P3

          Hasil analisis pada bobot segar di peroleh notasi sebagai berikut
P0 = 0,06767 b
P1 = 0,02500 b
P2 = 0,03535 b
P3 = 0,04583 b
P4 = 0,15900 a
Dari hasil analisis tersebut juga di perloleh hasil yang berbeda nyata pada P4 dengan notasi ( a ) terhadap bobot segar di banding P0,P1,P2,P3
          Hasil analisis pada jumlah daun di peroleh hasil dan notasi sebagai berikut
P0 = 4,83 c
P1 = 6,67 bc
P2 = 7,33 abc
P3 = 9,75 ab
P4 = 10,50 a
Hasil analisis di peroleh data bahwa P4 hampir sama hasilnya dengan P3 da P2 tetapi beda nyata dengan P0
          Pada hasil pengamatan tinggi tanaman di peroleh data
P0 = 7,2808
P1 = 8,6292
P2 = 11.8850
P3 = 14.8133
P4 = 14.1533
Dari hasil tersebut dapat di simpulkan bahwa P0 dan P1 Tidak berbeda nyata tetapi beda nyata dengan P2,P3 dan P4.
2.    kangkung
Pemupukan
Pemupukan bagi tanaman kangkung terdiri dari pupuk dasar yaitu pupuk kandang, yang diberikan seminggu sebelum tanam (setelah selesai pembuatan bedengan). Selain itu juga diberikan pupuk urea, seminggu setelah tanam, kemudian 2 minggu setelah tanam. Pemberian pupuk urea dicampur dengan air kemudian disiram pada pangkal tanaman dengan ember penyiram.

Dari hasil pengamatan dan analisis di peroleh data diameter bayang sebagai berikut
P0= 1,118
P1 = 1,067
P2 = 0,825
P3 = 0,808
P4 = 1,693
Dari hasil analisis tersebut di dapat hasil P0 memliki diameter yang lebih besar dari P1 Dan P2 hal ini di sebabkan oleh kesalahan dalam penanaman dan perawatan sehingga tanaman tidak dapat berkembang atau dapat di katakan hal ini adalah human error.
Dari hasil pengamantan dan analisis panjang ruas di perloeh hasil
P0 = 2.2307
P1 = 2.2013
P2 = 4.8800
P3 = 3.0693
P4 = 2.2435
Dari data tersebut dapat di simpulkan bahwa perlakuan P2 Lebih di respon oleh tanaman di banding perlakuan P1,P2,P3
Dari hasil pengamata dan analisis data panjang tangkai di perloh data sebagai berikut
P0 = 3,258
P1 = 3,687
P2 = 9.115
P3 = 4,18
P4 = 6,203
Sama halnya dengan panjang ruas, pada panjang tankgkai perlakuan pada P2 lebih di respon di banding dengan P1,P3 Dan P4
Hasil pengamatan pada bobot segar di perloeh data sebagai berikut
P0 = 0,0600
P1 = 0, 0457
P2 = 0, 0883
P3 = 0,0780
P4 = 0,0817
Dari hasil tersebut dapat di simpulkan bahwa perlakuan P2 dan P4 hampir memiliki hasil yang sama
Hasi pengamatan dari jumlah daun dapat di lihat sebagai berikut
P0 = 8, 17
P1 = 11.00
P2 = 14,67
P3 = 11,27
P4 = 15, 23
Dari hasil analisis tersebut dapat di simpulkan bahwa perlakuan P4 mendapatkan respon yang lebih besar di banding P1, P3 sedangkan P2 berbeda nyata dengan P1 dan P3
Hasil pengamatan dan analisis Tinggi tanaman dapat dilihat sebagai berikut
P0 = 15,550 b
P1 =25. 910 a
P2 = 27. 653 a
P3 = 24.912 a
P4 = 24. 530 a
Dari hasil tersebut dapat terlihat dari notasi bahwa perlakuan P1,P2,P3 dan P4 berbeda nyata dengan P0
Penyiangan
Penyiangan dilakukan pada rumput liar yang tumbuh disekitar tanaman harus dibersihkan karena akan menjadi pesaing terhadap kebutuhan air, sinar matahari, unsur hara dan biasanya sering menjadi sarang hama seperti ulat.
Penyiangan rumput-rumput ini dilakukan dengan cara mencabut, terkadang rumput sudah tidak mungkin lagi dicabut dengan tangan maka dipakai alat bantu cangkul.
Waktu penyiangan tergantung keadaan populasi dan pertumbuhan gulma. Penyiangan yang dilakukan untuk tanaman kangkung dan bayam sama.
















KESIMPULAN

1.    Pemberian pupuk pada taman bayam dan kangkung dengan taraf yang berbeda berpengaruh nyata terhadap hasil panen bayam dan kangkung
2.    Penyiangan pada kangkung dan bayam berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman seperti tinggi tanaman, jumlah daun dan lain-lain
3.    Interaksi antara taraf pemupukan dan penyiangan adalah sangat nyata karena penyiangan yang lebih intensif mengakibatkan berkurangnya saingan dalam perebutan unsur hara yang di berikan berupa pupuk






















DAFTAR PUSTAKA

-       Animous,2009.Kangkung.http://pcnucilacap.com/index.php?option=com_phocadownload&view=category&download=4:budidayakangkung&id=5:pta&Itemid=67. di akses tanggal 13 juni 2011 pukul 23.38 WIB
-       Adiwidijaja, Rahmat, dkk. ( 1997 ). Pengaruh Jenis dan Dosis Pupuk Kandan terhadap pertumbuhan dan hasil kangkung darat kultivar sutera ada inceptisols. Laporan penelitian. Lembaga penelitian universitas padjajaran fakultas pertanian UNPAD
-       Azmi, C.2007. Menanam bayam dan kangkung. Dinamika Pratama. Jakarta.
-       Bandini, Y dan N. Azis. 2001. Bayam. Penebar swadaya.jakarta
-       Mulya, Sarja.1979. Kangkung darat. Majalah trubus
-       Nazaruddin. 2000. Budidaya dan pengatura panen sayutan dataran rendah. Penebar swadaya. jakarta
-       Rahmat. 19992. Meningkatkan pendapatan petani melalui budidaya kangkung.sinar tani








Read More...

Isi masih berantakan harap maklum

Entri Populer