Archives

gravatar

AGRONOMI_PEMELIHARAAN

ACARA IV

PEMELIHARAAN TANAMAN

A.    PENDAHULUAN

1.       Latar belakang
Tanaman memerlukan pemeliharaan, sebab selama pertumbuhannya kadang-kadang mengalami kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan,   misalnya : serangan hama penyakit tanaman, adanya gulma, kekurangan air, gangguan alam, dan sebagainya. Kondisi lingkungan tersebut akan menghambat pertumbuhan tanaman. Maka, agar diperoleh hasil yang maksimal, faktor-faktor penghambat tersebut harus ditekan serendah mungkin dan segala kebutuhan tanaman harus terpenuhi.
Pemeliharaan tanaman merupakan semua tindakan manusia yang bertujuan untuk memberikan kondisi lingkungan yang menguntungkan sehingga tanaman tetap tumbuh dengan baik dan mampu memberikan hasil yang maksimal.  Pada prinsipnya, pemeliharaan tanaman menyangkut tindakan : Crop management, Soil management, Pest management, dan Water management

2.       Tujuan
Pada praktikum kali ini yaitu pemeliharaan tanaman bertujuan untuk mempelajari berbagai macam pemeliharaan tanaman pada berbagai macam tanaman.

B.     TINJAUAN PUSTAKA

C.     BAHAN DAN ALAT
Bahan     
-          Pertanaman tanaman semusim
-          Tanaman tahunan
-          Pupuk
-          Pestisida
-          Kompos

Alat
-          Hand sprayer
-          Cangkul
-          Sabit
-          Pancong
-          Gunting pangkas
-          Tugal
-          Sendok
-          Ember
D.     PROSEDUR KERJA
1.       Penyiangan
Cara penyiangan dapat dilakukan dengan berbagai cara, disesuaikan dengan jenis tanaman yang diusahakan dan jenis gulmanya.
-          Cara mekanis : secara manual dengan dicabut atau dengan menggunakan alat sederhana seperti cangkul, pancong, atau sabit.
-          Cara khemis : pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida.
2.       Pemupukan
Prosedur kerja disesuaikan dengan cara pemupukan dan jenis tanamannya.
-          Dengan cara dibenamkan dalam tanah
a.       Side dressing (ditugal disebelah tanaman)
b.       Plow sole placement (diberikan bersamaan dengan pembajakan)
-          Dengan car disebar pada permukaan tanah
a.       Broadcast (disebar pada permukaan tanah)
b.       Top dressing (diberikan pada sekitar tanaman)
-          Dengan cara disemprotkan pada daun
Ppupuk dilarutkan dalam air selanjutnya disemprotkan ke tanamandengan menggunakan sprayer.
3.       Irigasi dan drainase
Irigasi (pengairan) adalah mengangkut air ke lahan pertanian, sedamgkan drainase adalah membuang kelebihan air atau menghindarkan kelebihan air dari tanah pertanian.
Dalam melaksanakan irigasi dan drainase ada beberapa langkah yang harus diperhatikan, yaitu :
-          Dari mana air akan diambil
-          Bagaimana air akan diangkut ke lahan pertanian
-          Bagaimana air akan diberikan kepada tanaman
-          Berapa jumlah kebutuhan air bagi tanaman
-          Kemana air yang berlebihan akan dibuang.
Semua langkah tersebut diatas disesuaikan dengan kemampuan tanaman, sifat fisiologis dan umur tanaman, jenis tanah, topografi, dan keadaan iklim serta cuaca.
Cara irigasi ada tiga yaitu :
a.       Irigasi pada permukaan tanah (surface irigation)
b.       Air disemprotkan keatas (springkle irigation)
c.       Air dialirkan dibawah tanah (sub surface irigation)
4.       Pemangkasan
Pemangkasan dilakuakn untuk membuang bagian tanaman (biasanya cabang atau daun) yang pertumbuhannyan tidak dikehendaki, atau untuk mengatur percabangan sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Pemangkasan dilakukan juga untuk merangsang munculnya bunga. Pemangkadan dilakukan dengan memotong cabang/ daun dengan menggunakan alat yang tajam (gunting/pisau) agar luka bekas pangkasan dapat diminimalisasi.

E.     HASIL PENGAMATAN
Praktikum pemeliharaan dilakukan pada dua jenis tanaman yaitu tanaman semusim dan tanaman tahunan.
A.     TANAMAN SEMUSIM
1.       TANAMAN MONOKULTUR JAGUNG
a.       Intensitas cahaya
-          5 cm dari tanaman                (a) = 20,7
-          diantara diagonal tanaman   (b) = 33,7
-          diantara dua tanaman           (c) = 15,6
-          ditempat terbuka                  (d) = 73,3
v  Perhitungan
b.       PH                   :  4,8
c.       Kelembaban    :  >8
d.      Data seling      :  dilakukan jumat, 3 desember 2004.

2.       TANAMAN MONOKULTUR KANGKUNG
a.       Intensitas cahaya
-          5 cm dari tanaman                (a) = 54,8
-          diantara diagonal tanaman   (b) =  23,2
-          diantara dua tanaman           (c) =  43,6
-          ditempat terbuka                  (d) =  72,2
v  Perhitungan
b.       PH                   :  5
c.       Kelembaban    :  >8

3.       TANAMAN TUMPANGSARI JAGUNG-KANGKUNG
a.       Intensitas cahaya
-          5 cm dari tanaman                (a) = 16,4
-          diantara diagonal tanaman   (b) = 23,6
-          diantara dua tanaman           (c) = 16,2
-          ditempat terbuka                  (d) = 67,6
v  Perhitungan
b.       PH                   :  4,8
c.       Kelembaban    :  >8

B.     TANAMAN TAHUNAN
1.       pemeliharaan tanaman tahunan dapat dilakukan dengan urutan sebagai berikut:
a.       Gulma atau tanaman pengganggu dibersihkan dengan menggunakan cangkul dan sabit.
b.       Pohon tahunan dibumbun lalu disiram dengan air.
c.       Pemupukan dilakuakn pada tiga tempat dengan jarak 1m dari pohon, ukuran lubang sebesar 30 cm x 30 cm, pupuk yang dipakai adalah pupuk UREA dan SP36.
2.       penggendalian hama penggerek batang :
a.       Pohon yang terdapat lubang karena hama penggerek batang, dibersihkan dengan menggunakan paku kayu.
b.       Setelah dibersihkn lubang ditutup dengan menggunakan kapas yang telah dicelupkan ke dalam larutan desis.
c.       Kapas tersebut kemudia dipantek dengan paku kayu.
3.       tanaman pengganggu/ gulma
a.       Rumput teki
b.       Wedhusan
c.       Brambangan
d.      Alang-alang
e.       Putri malu
4.       hasil pengukuran
a.       PH                      = 6,8
b.       Kelembaban       = 65%
c.       Intensitas cahaya : 
a.        = 1022 x 10 = 10220
b.       = 1384 x 10 = 13840
c.        = 1752 x 10 = 17520
keterangan : a = I.C 30 cm dari batang
                    b = I.C dari tepi tajuk
                    c = I.C di tempat terbuka
I.C yang diterima tanaman tahunan :
      
             
Pemeliharaan tanaman semusim :
1.      pemupukan, pemupukan dilakuakan saat penanaman atau sebagai pupuk dasar SP36 dan UREA. Selanjutnya 14 hari penanaman ditambahkan pupuk susulan yang berupa pupuk UREA saja.
2.      penyiangan dilakukan setiap 2 minggu sekali.
3.      pembumbunan dilakukan agar akar tanaman semakin banyak, dan unsur hara yang diserappun semakin banyak pula.
4.      penyiraman dilakuakan setiap pagi dan sore, kecuali pada saat hujan tidak dilakuakn penyiraman
F.      PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dapat kita bandingkan cara mana yang paling tepat untuk melakukan pemaliharaan yang baik. Pada tanaman jagung diperlakukan cara yang berbeda dengan tanaman tahunan yaitu lada. Tanaman supaya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik maka perlu dilakukan pemeliharaan yang tepat. Dalam melakukan pemeliharaan perlu memperhatikan keadaan lingkungan sekeliling tanaman tersebut, faktor lingkungan tanaman yang primer menyangkut tanah yang dapat memberikan hara dan kelembaban, di samping  mendukung secara mekanik, energi penyinaran dalam bentuk panas dan cahaya, dan udara yang memberikan karbondioksida dan oksigen.
Dalam praktikum kali ioni diperoleh data perlakuan terhadap dua jenis tanaman yaitu tanaman semusim dan tanaman tahunan. Pada tanaman semusim yang diamati  berupa tanaman jagung dan kangkung, pada tanaman ini diberikan perlakuan yang berbeda yaitu dengan monokultur dan tumpangsari. Pada monokultur jagung diperoleh hasil yaitu PH tanah sebesar 4,8 dengan kelembaban tanah sebesar lebih dari 8. Tanaman  jagung  pada saat dilakukan perhitungan intensitas cahaya dengan menggunakan lux meter diperoleh hasil, bahwa pada jarak 5 cm dari tanaman diperoleh intensitas cahaya sebesar 20, 7 cd, diantara diagonal tanaman diperoleh 33,7 cd, diantara dua tanaman sebesar 15,6 cd, sedangkan pada daerah atau tempat terbuka diperoleh hasil sebesar 73,3 cd. Setelah dilakukan pehitungan diperoleh hasil intensitas cahaya yang diterima sebesar 48,316 cd. Sedangkan pada monokultur kangkung diperoleh hasil PH tanah sebesar 5 dengan kelembaban tanah sebesar lebih dari 8. intensitas cahaya setelah diukur dengan menggunakan lux meter diperoleh hasil 5 cm dari tanaman sebesar 54,8 cd, diantara diagonal tanaman sebesar 23,2 cd, pada tempat diantara dua tanaman diperoleh hasil 43,6 cd, sedangkan pada daerah atau tempat terbuka diperoleh hasil sebesar 72,2 cd. Setelah dilakukan perhitungan diperoleh hasil intensitas cahaya yang mampu diterima oleh tanaman kangkung tersebut sebesar 56,36 cd.
Selain tanaman semusim hal yang sama juga diberikan pada tanaman tahunan. Pada tanaman ini dilakukan suatu perlakuan yaitu dengan membersihkan gulma pengganggu tanaman dengan menggunakan cangkul dan sabit. Selain itu juga dengan pengendalian hama penggerek batang dengan cara pohon yang berlubang akibat hama dibersihkan dengan menggunakan paku yang terbuat dari kayu. Setelah dilakukan pembersihan kemudian ditutup dengan menggunakan kapas yang sudah dicelupkan dalam larutan desis. Dari hasil pengukuran terhadap tanaman tahunan ini diperoleh hasil PH tanah sebesar 6,8 dengan kelembaban tanah sebesar 65%. Intensitas cahaya yang diperoleh tanaman tahunan pada jarak 30 cm dari batang sebesar 10220 cd, dari tepi tajuk diperoleh hasil sebesar 13840 cd, sedangkan pada tempat terbuka diperoleh hasil sebesar 17520 cd. Setelah dilakukan perhitungan terhadap intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman tahunan diperoleh hasil sebesar 21710 cd.
Pada pemeliharaan tanaman semusim pemberian pupuk dilakukan saat penanaman atau sebagai pupuk dassar yaitu SP36 dan UREA. Selanjutnya dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk UREA saja. Penyiangan dapat dilakukan setiap 2 minggu sekali. Sedangkan pembumbunan dilakukan agar akar tanaman semakin banyak dan unsur hara yang diserappun semakin banyak. Dan yang terakhir penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari kecuali pada hari hujan tidak perlu dilakukan penyiraman.

G.     KESIMPULAN

Pemeliharaan tanaman perlu dilakukan karena selama pertumbuhannya tanaman mengalami gangguan-gangguan sepeti :

a.    Gangguan gulma (tumbuhan pengganggu)
b.   Kekurangan air
c.    Gangguan alam
d.   Gangguan hama dan penyakit tertentu
Pemeliharaan itu meliputi penyiangan, penyulaman, pemupukan, pembumbunan, pengairan dan pengendalian hama dan penyakit. Tetapi dalam praktikum hanya dilakukan penyiangan, pemupukan, pembumbunan, dan pengairan. Tujuan dari pemeliharaan tanaman adalah untuk memperoleh tanaman yang pertumbuhannya baik dan menghasilkan hasil yang optimal.

Read More...
gravatar

OPT_IDENTIFIKASI DAN ANALISIS VEGETASI GULMA


IDENTIFIKASI DAN ANALISIS VEGETASI GULMA






A.    PENDAHULUAN

A.    Tujuan Praktikum
1.      Mengetahui spesies gulma yang tumbuh mengganggu dan bersaing dengan tanaman budidaya.
2.      Mengetahui komposisi jenis atau spesies gulma, dan dominansi pada suatu vegetasi.

B.     Teori Dasar
                 Tanaman secara umum dibagi menjadi dua, yaitu tanaman yang menguntungkan dan tanaman yang merugikan. Tanaman yang menguntungkan biasanya merupakan tanaman yang sengaja ditanam dan dibudidayakan oleh manusia karena mempunyai nilai ekonomis. Sedangkan tanaman yang merugikan adalah tanaman yang tidak dikehendaki keberadaannya atau dalam bahasa pertanian sering disebut dengan gulma (weed). Gulma merupakan tumbuhan yang dianggap mempunyai nilai negatif lebih besar dibandingkan nilai ekonomisnya, sehingga gulma harus dimusnahkan agar nantinya tidak menimbulkan kerugian-kerugian yang nantinya dapat mengganggu kegiatan pertanian. Baik secara teknis maupun secara ekonomis. Tetapi perlu diketahui bahwa tidak selamanya gulma hanya memberikan nilai negatif saja untuk tanaman budidaya. Gulma juga mempunyai nilai positif yang memberikan keuntungan bagi tanaman budidaya. Yang pertama, gulma dapat mengurangi resiko erosi yang terjadi di areal pertanaman tanaman budidaya. Kedua, gulma dapat menjadi inang hewan predator bagi hama – hama yang merusak tanaman. Gulma juga dapat berperan sebagai LCC (Legume cover crop).
                 Kerugian – kerugian gulma dilihat dari segi kualitas, kuantitas, dan praktek pertanian.
a.       Segi kualitas : dengan adanya gulma kualitas akan menurun, karena biji gulma tersebut tercampur pada saat pengolahan tanah. Contoh : pada bau dan rasa di gandum.
b.      Segi kuantitas : kuantitas juga akan menurun, karena terjadi kompetisi dalam sarana tumbuh ( hara, air, udara, cahaya, ruang kosong ) dalam jumlah terbatas, tergantung dari varietas, kesuburan, jenis, kerapatan, dan lamanya tumbuh.
c.       Segi praktek pertanian : misalnya : pengolahan tanah, biaya meningkat, aliran air turun, sebagai inang hama penyakit, distribusi, dan pemupukan.
                 Anlisis vegetasi biasanya digunakan untuk suatu evaluasi pengendalian gulma seperti : perobahan flora (shifting) akibat metode pengendalian tertentu, evaluasi percobaan herbisida (trial) untuk menggunakan aktivitas sesuatu kombinasi herbisida terhadap jenis gulma dilapangan, dan juga evaluasi pengendalian herba menahun.
                 Praktikum yang telah dilakukan sejatinya bertujuan untuk mengetahui nama spesies gulma yang sering mengganggu tanaman budidaya khususnya pada lahan kering dan lahan basah. Lahan kering merupakan lahan bekas pertanaman jagung dan lahan basah merupakan lahan bekas pertanaman padi. Setelah itu, gulma yang sudah teridentifikasi dioven selama 24 jam untuk mengetahui bobot kering spesies gulma pada masing-masing petak. Kemudian dihitung kerapatan relatif, frekuensi relatif dan dominansi relatif.









C. BAHAN DAN ALAT

1.      Bahan
           Bahan sekaligus media yang digunakan dalam praktikum ini ada dua macam yaitu lahan basah atau lahan bekas penanaman padi dan lahan kering yaitu lahan bekas penanaman jagung.

2.      Alat
           Alat yang digunakan dalam praktikum ini diantaranya yaitu :
a.       Alat sguare method ukuran 50 cm x 50 cm
b.      Buku deskripsi gulma atau herbarium
c.       Pacong atau corek
d.      Kantong plastik
e.       Alat tulis
f.       Kertas Koran
g.      Steples
h.      Oven
















D.    PROSEDUR KERJA

Prosedur kerja pada praktiku ini yaitu sebagai berikut :
a.       Buat petak contoh dengan ukuran 50 cm x 50 cm dengan alat square method ada lahan sawah dan lahan kering
b.      Lemparkan pada lahan, kemudian cabut jenis gulma yang tumbuh pada petak tersebut
c.       Masukkan gulma tersebut ke dalam kantong plastic
d.      Lakukan hal tersebut sebanyak masing-masing lima kali pada lahan kering dan lahan basah
e.       Identifikasi jenis gulma yang ada menggunakan buku deskripsi berdasarkan ciri morfologinya, tulis nama spesiesnya serta jumlah spesies tanaman yang didapat pada masing-masing petak
f.       Bungkus masing-masing spesies menggunakan kertas koran, kemudian oven selama 24 jam
g.      Setelah kering, timbang tanaman tersebut untuk mengetahui bobot keringnya
h.      Hitung Kr (Kerapatan Relatif), Fr (Frekuensi Relatif) dan Dr (Dominansi Relatif) untuk lahan kering dan lahan basah









E.     PENGAMATAN DAN HASIL PENGAMATAN

            Data yang diperoleh dari analisis vegetasi dibagi menjadi dua jenis, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif yaitu data yang menunjukkan bagaimana suatu jenis tumbuhan tersebar dan berkelompok. Sedangkan data kualitatif merupakan data yang menyatakan jumlah, ukuran, berat basah/kering suatu jenis, dan luas daerah yang ditumbuhinya (Soekisman, 1984).
            Berikut merupakan data yang disajikan dalam bentuk data kuantitatif, yaitu :
1.   Kerapatan
Ø  Tabel I (Lahan Kering)
No
Nama Spesies Gulma
Kerapatan
Jumlah
Kerapatan Relatif
( % )
1
2
3
4
5
1
Cynodon dactylon
-
-
3
-
-
3
2.33
2
Diodia sarmentosa Swartz
16
8
-
-
-
24
18,6
3
Eleusine indica
-
-
2
1
-
3
2.33
4
Euphorbia hirta L.
1
-
-
-
-
1
0.77
5
Eupatorium riparium Reg
-
-
2
-
-
2
1.55
6
Melastoma affine D.
-
-
10
1
-
11
8.53
7
Mimosa pudica
-
-
1
-
-
1
0.77
8
Ottochloa arnuttiana ness
-
-
-
6
-
16
12.4
9
Polygonum longisetum
4
-
-
-
-
4
3.1
10
Polygonum nepalense meissa
-
1
-
5
1
7
5.42
11
Porophyllum rubella jacq
1
-
-
-
-
1
0.77
12
Setaria plicata Lamk.O
3
-
3
-
9
15
11.62
13
Sporobolus bertercanus Trin
6
14
3
5
-
28
21.7
14
Tanaman Cabai-cabaian
-
-
3
-
-
3
2.33
15
Themeda arguens L.
4
-
6
-
-
10
7.75

Jumlah
35
23
33
28
10
129
99.97

Ø  Tabel II (Lahan Basah)
No
Nama Spesies Gulma
Kerapatan
Jumlah
Kerapatan Relatif
( % )
1
2
3
4
5
1
Erechitites valerianifolia
5
2
6
1
1
15
27.7
2
Euphorbia hirta L.
6
2
2
1
-
11
20.37
3
Oplismenus burmani  L.
 -
-
8
-
4
12
7.69
4
Panicum repens L.
-
-
-
-
3
3
5.56
5
Wedelia trilobata
2
-
-
9
2
13
24.67

Jumlah
13
4
16
11
10
54
99.9


2.   Frekuensi
Ø  Tabel III (Lahan Kering)
No
Nama Spesies Gulma
Frekuensi
Jumlah
Frekuensi Relatif
( % )
1
2
3
4
5
1
Cynodon dactylon
0
0
1
0
0
0.2
3.84
2
Diodia sarmentosa Swartz
1
1
0
0
0
0.4
7.69
3
Eleusine indica
0
0
1
1
0
0.4
7.69
4
Euphorbia hirta L.
1
0
0
0
0
0.2
3.84
5
Euptorium riparium Reg
0
0
1
0
0
0.2
3.84
6
Melastoma affine D.
0
0
1
1
0
0.4
7.69
7
Mimosa pudica
0
0
1
0
0
0.2
3.84
8
Ottochloa arnuttiana ness
0
0
0
1
0
0.2
3.84
9
Polygonum longisetum
1
0
0
0
0
0.2
3.84
10
Polygonum nepalense meissa
0
1
0
1
1
0.6
11.53
11
Porophyllum rubella jacq
1
0
0
0
0
0.2
3.84
12
Setaria plicata Lamk.O
1
0
1
0
1
0.6
11.53
13
Sporobolus bertercanus Trin
1
1
1
1
0
0.8
15.38
14
Tanaman Cabai-cabaian
0
0
1
0
0
0.2
3.84
15
Themeda arguens L.
1
0
1
0
0
0.4
7.69

Jumlah
7
3
9
5
2
5.2
99.92

Ø  Tabel IV (Lahan Basah)
No
Nama Spesies Gulma
Frekuensi
Jumlah
Frekuensi Relatif
( % )
1
2
3
4
5
1
Erechitites valerianifolia
1
1
1
1
1
1
33.33
2
Euphorbia hirta L.
1
1
1
1
0
0.8
26.67
3
Oplismenos burmani L.
0
0
1
0
1
0.4
20
4
Panicum repens L.
0
0
0
0
1
0.2
6.67
5
Wedelia trilobata
1
0
0
1
1
0.6
13.33

Jumlah
3
2
2
3
4
3
100

3.   Domonansi
Ø  Tabel V (Lahan Kering)
No
Nama Spesies Gulma
Dominansi
Jumlah
Dominansi Relatif
( % )
1
2
3
4
5
1
Cynodon dactylon
-
-
1.55
-
-
1.55
0.65
2
Diodia sarmentosa Swartz
8
4.3
-
-
-
12.3
11.46
3
Eleusine indica
-
-
16
0.15
-
16.15
15.05
4
Euphorbia hirta L.
0.35
-
-
-
-
0.35
0.33
5
Eupatorium riparium Reg
-
-
1
-
-
1
0.93
6
Melastoma affine D.
-
-
3.5
0.17
-
3.67
3.42
7
Mimosa pudica
-
-
1.55
-
-
1.55
1.44
8
Ottochloa arnuttiana ness
-
-
-
14.2

14.2
13.23
9
Polygonum longisetum
0.7
-
-
-
-
0.7
0.65
10
Polygonum nepalense meissa
-
1.15
-
5.8
0.52
7.48
6.97
11
Porophyllum rubella jacq
2
-
-
-
-
2
1.86
12
Setaria plicata Lamk.O
8.1
6.5
-
6.75
21.35
19.9
13
Sporobolus bertercanus Trin
1.25
13.1
1.5
2.71
-
19.06
17.76
14
Tanaman Cabai-cabaian
-
-
0.65
-
-
0.65
0.61
15
Themeda arguens L.
1.7
-
4.45
-
-
6.15
5.73

Jumlah
22.6
18.6
35.85
23
7.27
107.31
99.99

Ø  Tabel IV (Lahan Basah)
No
Nama Spesies Gulma
Dominansi
Jumlah
Dominansi Relatif
( % )
1
2
3
4
5
1
Erechitites valerianifolia
6
0.5
1.3
0.6
1.1
9.5
29.2
2
Euphorbia hirta L.
5.4
1.5
1.18
1.2
0
9.28
28.53
3
Oplismenos gurmani L.
0
1.4
0
1.85
3.25
9.99
4
Panicum repens L.
0
0
0
0
0.65
0.65
2
5
Wedelia trilobata
1.85
0
0
7.4
0.6
9.85
30.28

Jumlah
13.3
2
3.88
9.2
4.2
32.53
100
4. Koefisien Komunitas
Ø  Tabel VII

No
Nama Spesies Gulma
Dominansi Mutlak
Lahan Basah
Dominansi Mutlak
Lahan Kering
1
Cynodon dactylon
0
0.7
2
Diodia sarmentosa Swartz
0
12.3
3
Eleusine indica
0
16.15
4
Erechitites valerianifolia
9.5
0
5
Euphorbia hirta L.
9.28
0.35
6
Eupatorium riparium Reg
0
1
7
Melastoma affine D.
0
3.67
8
Mimosa pudica
0
1.55
9
Oplismenos burmani L.
3.25
0
10
Ottochloa arnuttiana ness
0
14.2
11
Panicum repens L
0.65
0
12
Polygonum longisetum
0
7.48
13
Polygonum nepalense meissa
0
0.7
14
Porophyllum rubella jacq
0
2
15
Setaria plicata Lamk.O
0
21.35
16
Sporobolus bertercanus Trin
0
19.06
17
Tanaman Cabai-cabaian
0
0.65
18
Themeda arguens L.
0
6.15
19
Wedelia trilobata
9.85
0

Jumlah
a = 32.53
b = 107.31

Nilai C =   2 W    x 100 %
    ( a+b )
= 2 [( 0+0 ) + ( 0+0.35 )]  x 100 %
           (32.53+107.31)
= 2 [ 0+0.35 ] x 100 %
        139.84
= 2 x 0.35  x 100 %
    139.84
=    0.7     x 100 %
    139.84
=  0.5 %

C ≤ 80 % → Lahan basah dan lahan kering berbeda.
















F.   PEMBAHASAN DAN SIMPULAN

A. PEMBAHASAN
1.   Identifikasi
           Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi.
           Menurut morfologinya biasanya orang membedakan gulma ke dalam tiga kelompok. Ketiga kelompok gulma memiliki karakteristik tersendiri yang memerlukan strategi khusus untuk mengendalikannya.
a.    Gulma teki-tekian
            Kelompok ini memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanik karena memiliki umbi batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan. Selain itu, gulma ini menjalankan jalur fotosintesis C4 yang menjadikannya sangat efisien dalam 'menguasai' areal pertanian secara cepat. Ciri-cirinya adalah penampang lintang batang berbentuk segi tiga membulat, dan tidak berongga, memiliki daun yang berurutan sepanjang batang dalam tiga baris, tidak memiliki lidah daun, dan titik tumbuh tersembunyi. Kelompok ini mencakup semua anggota Cyperaceae (suku teki-tekian) yang menjadi gulma. Contoh: teki ladang (Cyperus rotundus), udelan (Cyperus kyllinga), dan Scirpus moritimus.
b.   Gulma rumput-rumputan
            Gulma dalam kelompok ini berdaun sempit seperti teki-tekian tetapi memiliki stolon, alih-alih umbi. Stolon ini di dalam tanah membentuk jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik. Contoh gulma kelompok ini adalah alang-alang (Imperata cylindrica).
c.    Gulma daun lebar
           Berbagai macam gulma dari anggota Dicotyledoneae termasuk dalam kelompok ini. Gulma ini biasanya tumbuh pada akhir masa budidaya. Kompetisi terhadap tanaman utama berupa kompetisi cahaya. Daun dibentuk pada meristem pucuk dan sangat sensitif terhadap kemikalia. Terdapat stomata pada daun terutama pada permukaan bawah, lebih banyak dijumpai. Terdapat tunas-tunas pada nodusa, serta titik tumbuh terletak di cabang. Contoh gulma ini ceplukan (Physalis angulata L.), wedusan (Ageratum conyzoides L.), sembung rambut (Mikania michranta), dan putri malu (Mimosa pudica).
           Pengendalian gulma merupakan subjek yang sangat dinamis dan perlu strategi yang khas untuk setiap kasus. Beberapa hal perlu dipertimbangkan sebelum pengendalian gulma dilakukan:
1. Jenis gulma dominan
2.   Tumbuhan budidaya utama
3.   Alternatif pengendalian yang tersedia
4.   Dampak ekonomi dan ekologi
           Kalangan pertanian sepakat dalam mengadopsi strategi pengendalian gulma terpadu untuk mengontrol pertumbuhan gulma.
           Menurut Soekisman, gulma dapat diidentifikasi dengan menempuh satu atau kombinasi dari sebagian atau seluruh cara-cara di bawah ini :
1.   Membandingkan gulma tersebut dengan material yang telah diidentifikasi di herbarium.
2.   Konsultasi langsung dengan para ahli di bidang yang bersangkutan.
3.   Mencari sendiri melalui kunci identifikasi.
4.   Membandingkan dengan determinasi yang ada.
5.   Membandingkan dengan illustrasi yang berbeda.
           Berikut merupakan identifikasi dari gulma yang ditemukan pada lahan basah dan lahan kering pada lahan bekas pertanaman padi dan pertanaman jagung :
1. Cynodon dactylon
Rumput menahun dengan tunas menjalar yang keras, tinggi 0.1 – 0.4 m. Batang langsing, sedikit pipih, yang tua dengan rongga kecil. Daun kerapkali jelas 2 baris. Lidah sangat pendek. Helaian daun bentuk garis, tepi kasar, hijau kebiuran, berambut atau gundul, 2.5 – 15 kali 0.2 – 0.7 cm. Bulir 3 – 9, mengumpul, panjang 1.5 – 6 cm. Poros bulir berlunas. Anak bulir berdiri sendiri, berseling kiri kanan lunas, menghadap ke satu sisi, menutup satu dengan yang lain secara genting, duduk, ellips memanjang, panjang kurang lebih 2 mm, kerapkali keungu-unguan. Sekam 1 – 2 yang terbawah tetap tinggal. Jumlah benang sari 3, tangkai putik 2, kepala putik ungu, muncul di tengah-tengah anak bulir.
·         Habitat                      : Terutama di daerah dengan musim kemarau yang tegas, di daerah cerah matahari dengan ketinggian 1 – 1650 m.
·         Jenis              : daun sempit
·         Klasifikasi     :
             Kingdom         :           Plantae
             Order               :           Poales
             Family             :           Poaceae
             Genus              :           Cynodon
             Species            :           C. dactylon

2. Diodia sarmentosa Swartz
·         Klasifikasi       :
                        Family             :           Rubiaceae
             Genus              :            Diodia, Spermacoce
             Species            :           breviseta, pilosa, sarmentosa, scandens

3. Eleusine indica
Herba, dengan perakaran yang kuat, berumpun dengan jumlah sedikit buluh sering bercabang pada bagian pangkalnya, tinggi tiap buluh bias mencapai 50 cm, tiap buku terdapat 3-5 daun yang saling menutupi, dari ketiak daun tumbuh tunas baru. Pelepah berwarna hijau muda, berbulu halus penjang. Perbungaan : tegak berdiri di atas 4-6 bulir terpusat diujung, 1 atau 2 bulir yang dibawah berseling, panjang bulir 3-5 cm, buliran rata dan licin 4-12 bunga.
·         Habitat                        : tumbuh di daerah pantai sampai ketinggian 1.600 m dpl.
·         Penggunaan     : Daun digunakan sebagai obat bisul dan penyubur rambut.
·         Klasifikasi       :
            Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
            Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji
            Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
            Kelas               : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
            Sub Kelas                    : Commelinidae
            Ordo                : Poales
            Famili              : Poaceae (suku rumput-rumputan)
            Genus              : Eleusine
            Spesies            : Eleusine indica (L.) Gaertn

4. Erechtites valerianifolia
·         Klasifikasi :
            Kingdom         : Plantae – Plants
             Subkingdom    : Tracheobionta – Vascular plants
             Superdivision  : Spermatophyta – Seed plants
             Division           : Magnoliophyta – Flowering plants
                                                       Class                : Magnoliopsida – Dicotyledons
                                                       Subclass          : Asteridae
                                                       Order               : Asterales
                                                       Family             : Asteraceae – Aster family
                                                       Genus              : Erechtites Raf. – burnweed P
                                                       Species            : Erechtites valerianifolia
5. Euphorbia hirta L.
Terna, tegak atau memanjat, tinggi lebih kurang 20 cm, batang berambut, percabangan selalu keluar dan pangkal batang dan tumbuh ke atas, warna merah atau keunguan. Daun berbentuk jonong meruncing sampai tumpul, tepi daun bergerigi. Perbungaan bentuk bola keluar dan ketiak daun bergagang pendek, berwarna dadu atau merah kecokelatan. Bunga mempunyai susunan satu bunga betina dikelilingi oleh lima bunga yang masing-masing terdini atas empat bunga jantan.
·         Penggunaan            : Mengobati penyakit mata yang merah karena belekan atau glaukoma.
·         Klasifikasi   :
                Divisi           :           Magnoliophyta
                Kelas           :           Magnoliopsida
                Bangsa        :           Euphorbiales
                Suku            :           Euphorbiaceae
                Marga          :           Euphorbia

6. Melastoma affine D.
Perdu, tegak tinggi 0.5 - 4 m, banyak bercabang, bersisik dan berambut. daun tunggal, bertangkai, letak berhadapan bersilang. Helai daun bundar telur memanjang sampai lonjong. ujung lancip, permukaan berambut pendek yang jarang dan kaku sehingga terana kasar dengan 3 tulang daun yang melengkung, panjang 2 - 20 cm, lebar 0.75 - 0.85 cm, warnanya hijau. Perbungaan majemuk timbul di bunga tiap malai rata dengan jumlah bunga tiap malai 4 - 18, mahkota 5, warnanya ungu kemerahan. buah masak akan merekah dan berbagi dalam beberapa bagian, warnanya ungu tua kemerahan. biji kecil-kecil warnanya cokelat. buahnya dapat dimakan sedangkan daun muda bisa dimakan sebagai lalap atau disayur. perbanyakan dengan biji.
·         Habitat                        : Tumbuhan ini bisa ditemukan sampai ketinggian 1.650 m dpl.
·         Penggunaan     : Senggani yang pahit ini dapat berkhasiat sebagai pereda demam (Antipiretik), penghilang nyeri (analgesik), peluruh kencing (diuretik), menghilangkan pembengkakan, melancarkan aliran darah, dan menghentikan pendarahan (hemostatis).
·         Klasifikasi       :
             Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
            Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
            Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
            Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
            Kelas               : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
            Sub Kelas        : Rosidae
            Ordo                : Myrtales
            Famili              : Melastomataceae
            Genus              : Melastoma

7. Mimosa Pudica
Daun berupa daun majemuk menyirip ganda dua yang sempurna. Jumlah anak daun setiap sirip 5 – 26 pasang. Helaian anak daun berbentuk memanjang sampai lanset, ujung runcing, pangkal membundar, tepi rata, permukaan atas dan bawah licin, panjang 6 – 16 mm, lebar 1 – 3 mm, berwarna hijau, umumnya tepi daun berwarna ungu. Jika daun tersentuh akan melipatkan diri, menyirip rangkap. Sirip terkumpul rapat dengan panjang 4 – 5, 5 cm. Batang bulat, berambut, dan berduri tempel. Batang dengan rambut sikat yang mengarah miring ke bawah. Akar berupa akar pena yang kuat. Bunga berbentuk bulat seperti bola, bertangkai, berwarna ungu/merah. Kelopak sangat kecil, bergigi 4, seperti selaput putih. Tabung mahkota kecil, bertaju 4, seperti selaput putih. Buah berbentuk polong, pipih, seperti garis. Biji bulat dan pipih.
·         Habitat                        : Tumbuhan asli Amerika tropis ini dapat ditemukan pada ketinggian 1 – 1200 m dpl.
·         Penggunaan       : Rasanya manis, sifatnya agak dingin, astringen. Herba putri malu berkhasiat sebagai penenang, peluruh dahak (ekspektoran), peluruh kencing (diuretik),obat batuk (antitusif), pereda demam (antipiretik), dan antiradang. Akar dan biji putri malu dapat berkhasiat sebagai perangsang muntah.
·         Klasifikasi       :
             Kerajaan          :           Plantae
             Divisi               :           Magnoliophyta
             Kelas               :           Magnoliopsida
             Ordo                :           Fabales
             Famili              :           Fabaceae
             Upafamili        :           Mimosoideae
             Genus              :           Mimosa
             Spesies            :           M. pudica

8. Panicum repens L.
Rumput tahunan dengan akar rimpang sepanjang 12-40 cm, menjalar di bawah permukaan tanah, tebal rimpang hingga 20 mm, putih, berdaging. Daun berukuran 4-30 cm x 3-9 mm berbentuk garis dengan kaki lebar dan ujung runcing. Bunga majemuk berupa malai agak jarang sepanjang 8-22 cm. Senang tumbuh di tempat yang lembab dan tidak menyukai kekeringan. Menghasilkan daun yang sedikit, kebanyakan tumbuh sebagai gulma yang mengganggu tanaman pertanian. Nilai gizi yang dikandung memuaskan dan herbivora gemar memakannya serta rimpang di beberapa tempat.
·         Habitat                        : Tersebar di Nusantara, di Jawa, tumbuh sampai ketinggian sekitar 2.000 m dpl.
·         Penggunaan     : Bahan obat-obatan.
·         Klasifikasi       :
             Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
            Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
            Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
            Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
            Kelas               : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
            Sub Kelas        : Commelinidae
            Ordo                : Poales
            Famili              : Poaceae (suku rumput-rumputan)
            Genus              : Panicum
            Spesies            : Panicum repens L.

9. Polygonum nepalense meissa
·         Klasifikasi       :
             Kingdom         : Plantae – Plants
             Subkingdom    : Tracheobionta – Vascular plants
             Superdivision  : Spermatophyta – Seed plants
             Division           : Magnoliophyta – Flowering plants
                                                         Class                 : Magnoliopsida – Dicotyledons
                                                         Subclass           : Caryophyllidae
                                                         Order                : Polygonales
                                                         Family              : Polygonaceae – Buckwheat
                                                     Genus                      : Polygonum L. – knotweed
                                             Species                    : Polygonum nepalense Meisn. –                          Nepalese smartweed

10. Setaria plicata
·         Klasifikasi :
             Cladus             : Eukaryota
             Regnum           : Plantae
             Cladus             : Angiospermae
                                                         Cladus             : Monocots
                                                         Cladus             : Commelinids
                                                         Ordo                : Poales
                                                         Familia            : Poaceae
                                                         Subfamilia     : Panicoideae
                                                         Tribus             : Paniceae
                                                         Genus             : Setaria
                                                        Species            : Setaria plicata

11. Themeda arguens L.
·         Klasifikasi :
     Kingdom                : Plantae – Plants
     Subkingdom           : Tracheobionta – Vascular plants
     Superdivision          : Spermatophyta – Seed plants
     Division                  : Magnoliophyta – Flowering plants
                                                     Class                        : Liliopsida – Monocotyledons
                                                    Subclass                   : Commelinidae
                                                    Order                        : Cyperales
                                                    Family                      : Poaceae – Grass family
                                                   Genus                        : Themeda Forssk. – kangaroo grass
                                                   Species                      : Themeda arguens (L.) Hack. – Christmas grass

12. Wedelia trilobata
Tanaman ini termasuk dalam tanaman dikotil sehingga perakarannya adalah tunggang. Batang tanaman ini berbentuk bulat dan termasuk batang basah (herbaceous). Mempunyai panjang 1-3 dm. Posisi batangnya merayap di atas permukaan tanah, pada setiap ruas batangnya dapat tumbuh akar. Tanaman ini termasuk tanaman yang berdaun tidak lengkap, sebab hanya memilikitangkai daun dan helaian daun saja (tidak memiliki  pelepah/upih daun). Daunnya berwarna hijau, dengan panjang 2–9 cm dan lebar 2–5 cm. Tanaman ini memiliki daging daun yang tipis lunak (herbaceous), dengan tepi daun yang bergerigi (serratus). Dilihat dari toreh pada tepi daun dan susunan tulang-tulang daunnya, tanaman ini dapat dikategorikan tanaman dengan daun berlekuk menyirip (pinnatilobus). Bangun daunnya sendiri adalah obovate / obovatus (bulat telur sungsang), namun beberapa jenis ada yang berbentuk oval (ovatus), dengan ujung daunnya runcing (acutus). Bunga tanaman ini berwarna kuning cerah, mirip seperti bunga matahari (hanya ukurannya lebih kecil). Termasuk ke dalam golongan buah kurung (achenium), dinding buahnya tipis, berdampingan dengan kulit biji tetapi tidak berlekatan, dan mempunyai panjang 4-5.
·         Klasifikasi       :
             Kingdom         : Plantae
             Divisio             : Magnoliophyta
             Class                : Magnoliopsida
             Ordo                : Asterales
             Family             : Asteraceae
             Genus              : Wedelia
             Spesies            : Wedelia trilobata

2. Analisis Vegetasi
            Konsepsi dan metode analisis vegetasi sesungguhnya sangat bervariasi, tergantung keadaan vegetasi itu sendiri dan tujuannya. Parameter yang digunakan adalah kerapatan, frekuensi dan dominansi.
1.      Kerapatan, yaitu menunjukkan jumlah individu suatu jenis tumbuhan pada tiap petak contoh.
2.      Frekuensi. yang dimaksud frekuensi jenis tumbuhan adalah beberapa jumlah petak contoh (dalam persen) yang memuat jenis tersebut, dan sejumlah petak contoh yang dibuat
3.      Dominansi, istilah ini digunakan untuk menyatakan berapa luas area yang ditumbuhi oleh sejenis tumbuhan dalam hal bersaing terhadap jenis lainnya. Dominansi dinyatakan dengan istilah kelindungan (coverage) atau luas basal atau biomassa atau volume.
a.    Kelindungan.
Kelindungan adalah proyeksi vertikal dari tajuk (canopi) suatu jenis pada area yang diambil samplingnya dinyatakan dalam persen luas secara penaksiran.
b.   Luas Basal
Satuan ini biasanya digunakan untuk jenis-jenis yang berkelompok atau membentuk rumpun dengan batas-batas yang jelas.  Rumpun atau kelompok dipotong dulu sehingga kurang lebih 1 cm diatas tanah, kemudian diukur luasnya dengan lembaran plastik.  Masalah dalam pengukuran luas basal adalah apakah bagian tanah yang kosong diantara batang-batang dalam rumpun itu ikut dihitung atau tidak.  Lazimnya digunakan satuan luas tertentu sebagai dasar.  Jika bagian tanah yang kosong lebih luas daripada dasar tersebut, maka tidak dihitung.
c. Biomassa
Tumbuhan dipotong diatas tanah dan dikeringkan dalam pengering 100-110 oC kemudian ditimbang berat keringnya.  Dengan mengukur tinggi masing-masing jenis, kita dapat mengetahui pula hubungan tinggi dan beratnya.  Cara ini baik untuk memperbandingkan stadia pertumbuhan gulma.
d. Volume
            Dihitung dengan rata-rata luas basal x rata-rata tinggi x jumlah suatu jenis.  Pengamatan dominasi gulma dilakukan pada dua jenis lahan yaitu pada lahan kering dan lahan basah.

Pada lahan kering, dilakukan perhitungan mengenai :
1).    Kerapatan mutlak suatu jenis = jumlah individu jenis itu dalam petak contoh.
Kerapatan nisbi suatu jenis = Kerapatan mutlak jenis itu     X 100 %
                                                          Jumlah kerapatan mutlak semua jenis
2).    Dominasi mutlak suatu jenis = jumlah dari nilai kelindungan atau nilai luas basal atau nilai biomassa atau volume dari jenis itu.
Kelindungan dapat dihitung dengan rumus = (d1 x d2/4) x 2/п dibagi dengan luas petak contoh, yaitu d1 dan d2 adalah diameter proyeksi tajuk suatu jenis.
Dominasi nisbi suatu jenis itu  X 100 %
Jumlah frekuensi mutlak semua jenis
3).    Frekuensi relatif
Jumlah frekuensi mutlak suatu jenis  X 100 %
Jumlah frekuensi mutlak suatu jenis
4).    Perbandingan nilai penting (SDR)
SDR menunjukkan jumlah niali penting dibagi jumlah besaran SDR, biasanya dipakai karena jumlahnya tidak lebih dari 100 % sehingga mudah diinterpretasi.
SDR suatu jenis = Nilai penting
                                      3























B. Simpulan
Dari data hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat disimpulkan beberapa hal mengenai identifikasi dan analisis vegetasi gulma, yaitu sebagai berikut :
1.      Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi.
2.      Gulma mempunyai nilai positif yang memberikan keuntungan bagi tanaman budidaya, yaitu :
a.       Gulma dapat mengurangi resiko erosi yang terjadi di areal pertanaman tanaman budidaya
b.      Gulma dapat menjadi inang hewan predator bagi hama – hama yang merusak tanaman. Gulma juga dapat berperan sebagai LCC (Legume cover crop).
3.      Analisis  vegetasi menggunakan parameter kuantitatif yang terdiri dari kerapatan, frekuensi, dominansi dan koefisien komunitas.
4.      Koefisien komunitas dihitung menggunakan C = , apabila C ≤ 80 % maka gulma di lahan basah dan di lahan kering sama, apabila C ≥ 80 % maka gulma di lahan basah dan di lahan kering berbeda. Nilai C pada praktikum yang telah dilakukan memiliki nilai C ≤ 80 % ulma di lahan basah dan di lahan kering berbeda.







G.    DAFTAR PUSTAKA
Moenandir, Jody. 1988. Pengantar Ilmu Pengendalian Gulma. Rajawali Press, Jakarta.
     -            . 1993. Ilmu Gulma : dalam Sistem Pertanian. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Nata wigena, H. 1995. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Trigenda Karya,
      Bandung.
Sastroutomo, Sutikno. 1990. Ekologi Gulma. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sukman, Yernelis. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali Pers, Jakarta.
Tjitrosoedirdjo, dkk. 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. Gramedia :  Jakarta.


Read More...

Isi masih berantakan harap maklum

Entri Populer