gravatar

Laporan PKL tanaman Krisan



Nah ini laporan PKL yang belum di revisi hahaha......aku upload aja buat panduan temen-temen tapi jangan di contoh semua ya :D///..ambil yang bagus aja.....kebetulan penulis emang pemalas hahahaha........bukan kebetualah ah...mang dari sananya....enjoy dan selamat mumet hahaha

eit jangan lupa di comment juga ya :D

LAPORAN PKL TANAMAN KRISAN




I.                   PENDAHULUAN


A.                 Latar belakang

Tingginya permintaan tanaman hias untuk menjadikan usaha di bidang pengadaan tanaman hias sangat menjanjikan keuntungan yang besar, salah satu tanaman hias yang populer adalah krisan.  Di Indonesia, permintaan terhadap bunga krisan meningkat 25% per tahun, bahkan menjelang tahun 2003 permintaan pasarnya meningkat 31,62%. Ekspor bunga krisan ke luar negeri seperti Belanda, Brunei, Singapura, Jepang, dan UEA mencapai 1,44 juta tangkai (Stasiun Karantina Tumbuhan Soekarno Hatta 2003). Permintaan pasar yang tinggi tersebut menjadikan tanaman krisan mempunyai prospek yang cerah untuk dikembangkan baik pada saat ini maupun yang akan datang (Balai Penelitian Tanaman Hias, 2000).
Usaha produksi krisan di Indonesia dihadapkan pada beberapa kendala, antara lain ketergantungan pada bibit dari luar negeri seperti Belanda, Jerman, Amerika Serikat, dan Jepang yang harganya mahal. Selain itu, bila tanaman akan diperbanyak perlu membayar royalti 10% dari harga jual tiap tangkainya. Kondisi tersebut menyebabkan harga jual bibit tinggi dan menurunkan keuntungan petani atau pengusaha tanaman krisan. Masalah lain adalah degenerasi bibit, yaitu penurunan mutu benih sejalan dengan bertambahnya umur tanaman induk dan rendahnya mutu bibit yang dihasilkan. Hal ini karena tanaman krisan diperbanyak dengan setek pucuk maupun anakan (Rukmana dan Mulyana, 1997).
Untuk menghindari atau mengurangi degenerasi benih, produsen dituntut agar memperbarui tanaman induk secara periodik bila gejala degenerasi mulai tampak. Oleh karena itu, pengembangan  varietas yang telah dihasilkan oleh pemulia tanaman dan penerapan teknik perbanyakan yang tepat diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut. (Rukmana dan Mulyana, 1997).
Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthenum indicum (kuning), C. morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Di Jepang abad ke-4 mulai   dibudidayakan krisan, dan tahun 1797 bunga krisan dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East. Tanaman krisan dari Cina dan Jepang menyebar ke kawasan Eropa dan Perancis tahun 1795. Tahun 1808 Mr. Colvil dari Chelsa mengembangkan 8 varietas krisan di Inggris. Jenis atau varietas krisan modern diduga mulai ditemukan pada abad ke-17. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan secara komersial (Yuanzhi Kong, 2000).
 Krisan atau Chrysanthenum merupakan salah satu jenis tanaman hias yang telah lama dikenal dan banyak disukai masyarakat serta mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Tanaman krisan memiliki nilai lebih selain keindahan keragaman bentuk dan warnanya, bunga krisan juga memiliki kesegaran yang relatif lama dan mudah dirangkai. Keunggulan lain yang dimiliki adalah bahwa pembungaan dan panennya dapat diatur menurut kebutuhan pasar. (Yuanzhi Kong, 2000).
 Tanaman krisan biasa digunakan sebagai bahan dekorasi ruangan, jambangan (vas) bunga, dan rangkaian bunga. Tanaman krisan dalam pot dapat digunakan untuk menghias meja kantor, ruangan hotel, restaurant dan rumah tempat tinggal. Selain digunakan sebagai tanaman hias, krisan juga berpotensi untuk digunakan sebagai tumbuhan obat tradisional dan penghasil racun serangga (hama). (Hasyim dan Reza dalam Wisudiastuti, 1999).
 Bunga krisan digolongkan dalam dua jenis yaitu jenis spray dan standard. Krisan jenis spray dalam satu tangkai bunga terdapat 10 — 20 kuntum bunga berukuran kecil . Sedangkan jenis standard pada satu tangkai bunga hanya terdapat satu kuntum bunga berukuran besar, bentuk ini yang biasa dibudidayakan sebagai bunga berukuran besar. Bentuk bunga krisan yang bisa dibudidayakan sebagai bunga potong adalah Tunggal, Anemone, Pompon, Dekoratif, Bunga besar (Hasyim dan Reza dalam Wisudiastuti, 1999).
 Krisan merupakan salah satu jenis bunga potong penting di dunia. Pada perdagangan tanaman hias dunia, bunga krisan merupakan salah satu bunga yang banyak diminati oleh beberapa negara Asia seperti Jepang, Singapore dan Hongkong, serta Eropa seperti Jerman, Perancis dan Inggris (Wisudiastuti, 1999).
Krisan menempati urutan kedua setelah bunga mawar, Dari waktu ke waktu permintaan terhadap bunga krisan baik dalam bentuk bunga potong maupun dalam pot mengalami kenaikan. Proyeksi kebutuhan bunga potong di Jakarta pada tahun 1999 berjumlah 58.992.100 tangkai bunga, 20 persen diantara adalah krisan (Rukmana dan Mulyana, 1997).
Budidaya bunga krisan diawali dengan benih sebar. Introduksi teknologi perbenihan telah diawali sejak tahun 2006, salah satu alternative dalam usaha pengadaan benih krisan secara konvensional melalui perbanyakan vegetative dengan cara memisahkan anakan atau dengan system stek pucuk (cutting system). System ini menghasilkan benih yang genotipenya telah diketahui dan dapat dibuat pada waktu yang singkat. Keberhasilan perbanyakan vegetative dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: 1) tanaman induk. 2) umur stek (stek hasil cabutan atau kebun pangkas yang muda/juveni yaitu bagian pucuk). 3) media. 4) drainase media. 5) intensitas cahaya. 6) teknik pengguntingan pucuk. 7) jenis dan konsentrasi hormon perbanyakan pertumbuhan yang digunakan. (Wisudiastuti, 1999).

B.                 Tujuan Praktik Kerja Lapang
Tujuan  dari pelaksanaan praktik kerja lapang ini yaitu untuk:
1.      Mengetahui dan mempelajari pengelolaan pembiakan vegetatif tanaman hias krisan di Balai Penelitian Pengkajian Teknologi Pertanian di Yogyakarta.
2.      Mengetahui struktur organisasi di Balai Penelitian Tanaman Hias Balai Penelitian Pengkajian Teknologi Pertanian di Yogyakarta.
3.      Mengetahui permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan pembiakan vegetatif tanaman hias krisan Balai Penelitian Pengkajian Teknologi Pertanian di Yogyakarta.
4.      Mengetahui dan mempelajari upaya yang Balai Penelitian Pengkajian Teknologi Pertanian di Yogyakarta laksanakan dalam menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan kegiatan pengelolaan pembiakan vegetatif tanaman hias krisan.

C.                 Manfaat Praktik Kerja Lapang

Manfaat praktik kerja lapang yang akan dilakukan, diharapkan:
1.       Mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang pengelolaan pembiakan vegetatif  tanaman hias krisan secara langsung.
2.       Mendapatkan informasi tentang cara pengelolaan pembiakan vegetatif tanaman hias krisan yang baik yang telah dilakukan di Balai Penelitian Pengkajian Teknologi Pertanian di Yogyakarta.












II.                TINJAUAN PUSTAKA

A.                 Botani Tanaman Krisan
Klasifikasi botani tanaman hias krisan adalah sebagai berikut:
Kingdom     : Plantae (Tumbuhan)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi          : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas           : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas    : Asteridae
Ordo            : Asterales
Famili          : 
Asteraceae
Genus          : 
Chrysanthemum
Spesies        : Chrysanthemum sp.
 ( Plantamor, 2009)
Jenis dan varietas tanaman krisan di Indonesia umumnya hibrida berasal dari Belanda, Amerika Serika, dan Jepang. Krisan yang ditanam di Indonesia terdiri atas:
1.        Krisan lokal (krisan kuno) : Berasal dari luar negri, tetapi telah lama dan beradaptasi di Indoenesia maka dianggap sebagai krisan lokal. Ciri-cirinya antara lain sifat hidup di hari netral dan siklus hidup antara 7-12 bulan dalam satu kali penanaman. Contohnya adalah Chrysanthemum maximum berbunga kuning banyak ditanam di Lembang dan berbunga putih di Cipanas (Cianjur).
2.        Krisan introduksi (krisan modern atau krisan hibrida) : Hidupnya berhari pendek dan bersifat sebagai tanaman annual. Contoh krisan ini adalah C. indicum hybr. Dark Flamingo, C. i.hybr. Dolaroid,C. i. Hybr. Indianapolis (berbunga kuning) Cossa, Clingo, Fleyer (berbunga putih), Alexandra Van Zaal (berbunga merah) dan Pink Pingpong (berbunga pink).
3.        Krisan produk Indonesia : Balai Penelitian Tanaman Hias Cipanas telah melepas varietas krisan buatan Indonesia yaitu varietas Balithi 27.108, 13.97, 27.177, 28.7 dan 30.13A.
B.                 Manfaat Tanaman Krisan
Bunga krisan masih kerabat dekat dengan bunga Aster, Daisy, yang merupakan famili Asteraceae. Keunggulan krisan terletak pada masa tanamnya yang singkat dan harganya yang stabil, keaneka-ragaman warna dan bentuk bunganya, juga karena sebagai bunga potong, krisan bisa tahan lebih dari 2 minggu di vas. Bunga krisan pot bahkan bisa bertahan sampai hitungan bulan. Kegunaan tanaman krisan yang utama adalah sebagai bunga hias. Manfaat lain adalah sebagai tumbuhan obat tradisional dan penghasil racun serangga (Maaswinkel dan Suloyo, 2004) . Tanaman krisan sebagai bunga hias di Indonesia digunakan sebagai:
1.        Bunga pot : ditandai dengan sosok tanaman kecil, tingginya 20-40 cm, berbunga lebat dan cocok ditanam di pot, polibag atau wadah lainnya. Contoh krisan mini (diameter bunga kecil) ini adalah varietas Lilac Cindy (bunga warna ping keungu-unguan), Pearl Cindy (putih kemerah-merahan), White Cindy (putih dengan tengahnya putih kehijau-hijauan), Applause (kuning cerah), Yellow Mandalay (semuanya dari Belanda).Krisan introduksi berbunga besar banyak ditanam sebagai bunga pot, terdapat 12 varitas krisan pot di Indonesia, yang terbanyak ditanam adalah varietas Delano (ungu), Rage (merah) dan Time (kuning).
2.        Bunga potong : ditandai dengan sosok bunga berukuran pendek sampai tinggi, mempunyai tangkai bunga panjang, ukuran bervariasi (kecil, menengah dan besar), umumnya ditanam di lapangan dan hasilnya dapat digunakan sebagai bunga potong. Contoh bunga potong amat banyak antara lain Inga, Improved funshine, Brides, Green peas, Great verhagen, Puma, Reagen, Cheetah, Klondike dll.
3.        Manfaat Krisan bagi kesehatan : Krisan jenis Chrysanthemum morifolium atau  Chrysanthemum indicum, yang berwarna warna putih atau kuning bisa dijadikan teh krisan ato Chrysanthemum Tea. Khasiatnya untuk menyembuhkan influenza, jerawat dan mengobati panas dalam dan sakit tenggorokan dan juga untuk obat demam, mata panas dan berair, pusing serta untuk membersihkan liver (Maaswinkel dan Suloyo, 2004)



C.     Ekologi Tanaman Krisan
1)        Iklim
a.       Tanaman krisan membutuhkan air yang memadai, tetapi tidak tahan terhadap terpaan air hujan. Oleh karena itu untuk daerah yang curah hujannya tinggi, penanaman dilakukan di dalam bangunan rumah plastik.
b.      Untuk pembungaan membutuhkan cahaya yang lebih lama yaitu dengan bantuan cahaya dari lampu TL dan lampu pijar. Penambahan penyinaran yang paling baik adalah tengah malam antara jam 22.30–01.00 dengan lampu 150 watt untuk areal 9 m 2 dan lampu dipasang setinggi 1,5 m dari permukaan tanah. Periode pemasangan lampu dilakukan sampai fase vegetatif (2-8 minggu) untuk mendorong pembentukan bunga.
c.       Suhu udara terbaik untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah antara 20-26 C. Toleran suhu udara untuk tetap tumbuh adalah 17-30 C.
d.      Tanaman krisan membutuhkan kelembaban yang tinggi untuk awal pembentukan akar bibit, setek diperlukan 90-95%. Tanaman muda sampai dewasa antara 70-80%, diimbangi dengan sirkulasi udara yang memadai.
e.       Kadar CO2 di alam sekitar 3000 ppm. Kadar CO2 yang ideal untuk memacu fotosistesa antara 600-900 ppm. Pada pembudidayaan tanaman krisan dalam bangunan tertutup, seperti rumah plastik, greenhouse, dapat ditambahkan CO2 hingga mencapai kadar yang dianjurkan.

2)        Media Tanam
Tanah yang ideal untuk tanaman krisan adalah bertekstur liat berpasir, subur, gembur dan drainasenya baik, tidak mengandung hama dan penyakit. Derajat keasaman tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman sekitar 5,5-6,7.
3)        Ketinggian Tempat

          Tanaman krisan pada umumnya banyak dijumpai pada daerah yang mempunyai ketinggian 700 — 1.200 m.

D.                 Teknik PembiakanVegetatif

1.        Persyaratan Bibit
Bibit diambil dari induk sehat, berkualitas prima, daya tumbuh tanaman kuat, bebas dari hama dan penyakit, dan komersial di pasar.
2.        Penyiapan Bibit
Bibit asal stek pucuk
Tentukan tanaman yang sehat dan cukup umur, pilih tunas pucuk yang tumbuh sehat, diameter pangkal 3-5 mm, panjang 5 cm, mempunyai 3 helai daun dewasa berwarna hijau terang, potong pucuk tersebut, pemotongan di lakukan dengan menggunakan pisau atau gunting stek setiap melakukan pemotongan sebaiknya dicelupkan ke dalam alcohol 70%. Setelah itu langsung semaikan atau disimpan dalam ruangan dingin bersuhu udara 4 derajat C, dengan kelembaban 30 % agar tetap tahan segar selama 3-4 minggu. Cara penyimpanan stek adalah dibungkus dengan beberapa lapis kertas tisu, kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik rata-rata 50 stek.   ( Khattak, A. M. dan S. Pearson, 1997 )
Stek pucuk krisan diambil pada bunga krisan yang berumul 14 hari dan di perkirakan sudah mempunyai 7 helai daun. Tanman induk ini dapat di stek namun ditinggalkan empat daun di bawahnya, hal ini dilakukan karena untuk memacu tunas lateral tumbuh kembali karena setiap daun memiliki cadangan makanan yang dapat menumbuhkan tunas lateral tersebut dan jika daun tersebut tidak ada atau di sisakan dua maka proses penumbuhan tunas lateral akan sulit karena cadangan makanan pada daun yang sedikit akan disebarkan ke setiap organ tumbuhan sehingga penyuplaian cadangan makanan akan sedikit.
 Setelah 14 hari kembali tanaman krisan yang telah dipotong dan menyisakan empat buah helai daun dan di setiap ketiak daun akan tumbuh tunas lateral yang seragam. Namun pertumbuhan tunas lateral atas akan lebbih dulu berkembang dibandingkan dengan yang bawah. Pemotongan dapat dilakukan kepada dua tanaman yang timbul pada tunas lateral namun kembali sisakan dua daun untuk menumbuhkan kembali tunas lateral. pemotongan ini dilakukan pada tunas lateral bawah.  ( Marwoto, 2000 )
Tanaman yang baru akan muncul pada ketiak daun yang telah diambil bagian atas tanamannya. Pemotongan ini dilakukan terus menerus selama 5 bulan, namun seringkali tanaman induk ini dapat bertahan sampai satu tahun jika kualitasnya masih baik. Akan tetapi jika tanaman krisan ini terlalu lama distek maka akan menimbulkan turunya kualitas regenerasi. Selain itu tanaman induk yang terlalu lama di stek biasanya akan menimbulkan sumber hama dan penyakit karena pertumbuhannya yang bercabang dan mengumpul sehingga cahaya tidak dapat masuk kedalam daun dan hama dan penyakit biasanya bersarang di tempat itu, selain itu dapat menimbulkan reaksi gelap yang dapat merugikan. Menurut Iknas (2008), reaksi gelap ini dapat menyebabkan tanaman berubah fase generatif, jadi bibit yang seharusnya pada fase vegetatif menjadi fase generatif sehingga tanaman menjadi berbunga karena tanaman induk akan di jadikan bibit maka akan merugikan sebab tanaman bunga krisan yang berada pada fase generatif tidak dapat di gunakan sebagai indukan untuk bibit stek pucuk bunga krisan.
          Reaksi gelap adalah reaksi pembentukan gula dari CO2 yang terjadi di stroma. Berbeda dengan reaksi terang, reaksi gelap atau reaksi tidak bergantung cahaya bisa terjadi pada saat siang dan malam, namun pada siang hari laju reaksi gelap tentu lebih rendah dari laju reaksi terang. Reakasi glap ini memanfaatkan ATP dan NADPH dari reaksi terang yaitu fotosintesis untuk mereduksi CO2 menjadi gula tetap terjadi pada saat ada cahaya atau siang hari. Reaksi gelap ini akan hilang dengan dengan sendirinya apabila tanaman tersebut dikondisikan seperti bibit pada umumnya, akan tetapi reaksi gelap ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk hilang. Penanaman pada tunas-tunas yang telah di stek, batang bawah yang terdapat luka di olesi zat perangsang akar. Zat perangsang akar ini dapat menggunakan IBA atau Rutoon. Pemotongan pada tanaman ini dilakukan sampai ke generasi G3 atau G4 hal ini agar dapat menekan terjadinya generasi yang kurang berkualitas sehingga jika sampai ke G3 atau G4 maka bibit harus segera siap di tanam di lapangan (Iknas, 2008).

3.        Teknik Penyemaian Bibit
a.       Penyemaian di bak
Siapkan tempat atau lahan pesemaian berupa bak-bak berukuran lebar 80 cm, kedalaman 25 cm, panjang disesuaikan dengan kebutuhan dan sebaiknya bak berkaki tinggi. Bak dilubangi untuk drainase yang berlebihan dan agar pertumbuhan akar tanaman bisa maksimal. Medium semai berupa pasir steril hingga cukup penuh. Semaikan setek pucuk dengan jarak 3 cm x 3 cm dan kedalaman 1-2 cm, sebelum ditanamkan diberi (ZPT) Rotoone F atau Rhizopon yang merupakan zat peransang perakaran dengan cara dioleskan pada masing-masing pangkal stek pucuk yang akan di semaikan. Setelah tanam pasang sungkup plastik yang transparan di seluruh permukaan.
b.      Penyiapan di lahan di bedengan
Penyiapan dilahan bedengan dapat di lakukan dengan terlebih dahulu mengolah tanah  yang diperuntukkan sebagai lahan tanam dengan mencangkul tanah sedalam 30 cm hingga tanah tampak gembur, kemudian diamkan lahan tersebut dengan membiarkannya secara terbuka tanpa ditutup hingga 15 hari. Hal ini dimaksudkan agar uap-uap tanah yang mungkin mengganggu kelangsungan pertumbuhan tanaman yang terkandung di dalam tanah telah keluar hilang. Setelah masa 15 hari tersebut lakukan pencangkulan berikutnya, namun untuk kali ini pencangkulan dibuat dengan tujuan membuat bedengan atau petakan dengan ketinggian bedengan 20 hingga 30 m dan lebar 1 hingga 1,3 m. Panjang bedengan dapat diatur disesuaikan dengan kondoso lahan atau banyaknya bibit yang akan di tanam. Bedengan di buat dengan memberikan jarak sekitar 30 m hingga 40 cm tiap lajurnya
Pergunakan pupuk organik seperti pupuk kandang di campur dengan sekam dan taburkan di atas lahan bedengan secara rata setelah itu dengan menggunakan alat, campurkan taburan campuran pupuk dan sekam tadi dengan tanah bedengan bagian atas hingga merata tercampur semuanya dan rapikan permukaan atas hingga merata tercampur semuanya dan rapikan permukaan atas tanah bedengan degan menggunakan cangkul atau alat lainnya
Kondisi tanah mempunyai kadar atau tingkat keasaman tanah tidak sesuai dengan ambang keasaman yang di syaratkan yaitu kurang dari 5,5 maka bisa di campurkan zat tambahan berupa kapur pertanian seperti dolomit CaMg ( CO2 ), Kalsit ( CaCO2 ), Kapur beker ( CaO ) atau Kapur Hidrat Ca(OH)2. Tingkat keasaman tanah atau (pH) tanah dapat di teskan terlebih dahulu di laboratorium dengan memebawa contoh tanah yang akan dijadikan lahan budidaya.
c.       Penyiapan lahan di rumah plastik
   Pembuatan rumah plastik terbuat dari bambu dan kayu. Atapnya  berupa plastik UV atau bahan lain yang transparan dan dinding rumah berupa screen atau paranet. Pada rumah plastik dilengkapi dengan bak atau drum penampung air untuk pengairan dan pemeliharaan tanaman serta rangkaian listrik untuk pemberian cahaya tambahan. Lahan pertanaman tanah dalam rumah plastik diolah sedalam 30 cm, kemudian diberokan selama 2 minggu dan dibiarkan mengering, diusahakan agar tidak terkena air atau terbasahi. Tanah diolah kembali dengan membuat bedengan setinggi 25-30 cm dengan lebar 1 m memanjang searah dengan rumah plastik dengan jarak antar bedengan 50 cm. Bedengan diberikan POM 30 ton/ha, Urea 200 kg/ha, KCl 350 kg/ha, SP36 300 kg/ha dan dicampur dengan diaduk sampai rata.Diberi kapur dolomite 3-4,5 ton/ha apabila pH tanah rendah (masam).
 Instalasi listrik untuk Pemberian Cahaya Tambahan Pemberian tambahan cahaya dengan menggunakan lampu pijar 75-100 watt atau TL 40 watt pada setiap titik, diatur dengan menggunakan timer. Titik lampu berjarak 2 x 2 m2dan tinggi lampu sekitar dan tinggi lampu sekitar 1,5-2 m di atas permukaan bedengan.

4.        Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Pemeliharaan untuk stek pucuk yaitu penyiraman dengan sprayer 2-3 kali sehari, hal ini di lakukan agar kondisi bak persemaian tetap dalam keadaan lembab dan sesuai dengan batas kelembapan yang di perlukan tanaman untuk tumbuh. Pencahayaan di yang diperlukan bagi pertumbuhan daun dapat dipasang bola lampu untuk pertumbuhan vegetatif. Pemasangan tambahan pencahayaan juga harus memperhatikan syarat-syarat pencahayaan yang sesuai. Tunas atau bibit yang terlihat adanya serangan hama, penyakit dan jamur maka dapat dilakukan  penyemprotan pestisida atau fungisida. Sungkup persemaian dibuka pada sore hari dan malam hari, terutama pada beberapa hari sebelum pindah ke lapangan agar bibit mengalami penyesuaian atau adaptasi dengan lingkungan umum.
.
5.        Tanaman Induk untuk Produksi Stek
Tanaman induk adalah tanaman yang dipelihara khusus untuk produksi stek. Bahan tanam untuk tanaman induk dapat berupa stek berakar hasil perbanyakan konvensional atau tanaman yang sudah diaklimatisasi hasil perbanyakan kultur jaringan. Berdasarkan fungsinya sebagai penghasil stek, maka tanaman induk dipelihara selalu dalam keadaan vegetatif aktif dengan penyinaran tambahan hingga tanaman tidak produktif. (Maaswinkel dan Sulyo, 2004)
Stek yang dihasilkan harus berasal dari tunas samping (tunas aksiler) yang tumbuh dari ketiak daun. Tunas aksiler yang tumbuh dari ketiak daun terstimulasi setelah pertumbuhan apikal pada cabang yang sama terhenti (dipanen atau di-pinching). Maaswinkel dan Sulyo (2004) mengemukakan bahwa pemeliharaan tanaman induk perlu mendapat perhatian yang serius, sehubungan dengan kualitas stek yang akan dihasilkan. Keragaan tanaman induk akan mempengaruhi mutu stek yang dihasilkan dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tanaman yang hendak ditanam. Tata cara budidaya tanaman induk adalah sebagai berikut:
* Minggu 0 – 2  = stek dalam proses pengakaran
* Minggu 3       =  penanaman stek dalam bedengan.
* Minggu 4       =  pinching
* Minggu 7 – 23= panen/produksi stek
* Minggu 23      = tanaman induk dibongkar/diganti dengan tanaman 
                              baru.
Dengan demikian, usia produktif tanaman dalam menghasilkan stek yaitu pada minggu ke 7–23 (16 minggu). Tunas apikal dipotong dengan menggunakan pemotong steril dengan menyisakan 2–3 daun pada batang/cabang yang dipotong, sekalipun jumlah tunas aksiler yang tumbuh dari ketiak daun berbanding lurus dengan sisa daun yang ditinggalkan hingga 7–8 daun (De Ruiter, 1997). Hal ini berhubungan dengan pemeliharaan bentuk tajuk dan kanopi tanaman induk agar tidak cepat rimbun sehingga stek yang dihasilkan memiliki kualitas yang memadai.
Tunas aksiler yang tumbuh pada ketiak daun setelah apikal dipotong, dimungkinkan berjumlah lebih dari satu dengan waktu yang tidak bersamaan (Ahmad dan Marshall, 1997) dan tidak seragam (Chockshull, 1982), sehingga tunas aksiler yang akan dipanen sebagai bahan stek selanjutnya kemungkinan tidak seragam. Menurut Maaswinkel dan Sulyo (2004), tunas aksiler yang dipanen untuk bahan stek hendaknya tunas yang telah memiliki kriteria 5 – 7 daun sempurna. Bila pada saat panen, dijumpai tunas aksiler muda atau yang belum memiliki kriteria tersebut diatas, maka tunas aksiler ini dibiarkan hingga pada saatnya dapat dipanen (panen stek berikutnya).
Davies dan Potter (1981) mengemukakan bahwa kualitas pertumbuhan tanaman krisan sangat dipengaruhi oleh kualitas bahan tanamnya (kualitas stek). Selanjutnya kualitas stek sangat dipengaruhi oleh performa dan sejarah pertumbuhan tanaman induk dimana stek tersebut berasal. Stek berkualitas rendah dapat disebabkan oleh kesalahan penanganan stek setelah panen, proses pengakaran stek atau bahkan kualitas tanaman induk tanaman sumber stek tersebut sudah tidak memadai ( Klapwijk, 1987)
Banyak kasus menunjukkan bahwa kualitas tanaman induk yang buruk berkaitan dengan rendahnya kualitas stek yang dihasilkan. Moe (1988 ) mengungkapkan bawhwa tanaman induk yang telah terinduksi ke fase generatif akan menghasilkan tunas aksiler dengan pertumbuhan lebih lambat dan sedikit. Dalam proses pengakaran, pertumbuhan akar lebih lambat sehingga periode pengakaran lebih lama dengan jumlah lebih sedikit dan pendek (De Vier dan Geneve, 1997). Gejala yang sama pun sering terlihat bila stek diambil dari tanaman induk yang sudah tua dan tidak produktif lagi dalam menghasilkan stek. Davies dan Potter (1981) mengemukakan bahwa kandungan karbohidrat pada tunas aksiler juga mempengaruhi kecepatan dan kekompakan pertumbuhan akar stek pada saat proses pengakaran. Semakin sering tanaman induk dipanen steknya, maka kecepatan dan kualitas pertumbuhan tunas aksiler akan semakin menurun karena distribusi karbohidrat yang tidak merata, sehingga kualitas stek yang dihasilkan pun akan semakin rendah (Ahmad dan Marshall, 1997).
Budidaya tanaman induk dilakukan dalam rumah lindung yang terpisah dengan pertanaman untuk produksi bunga. Pertanaman induk dapat menggunakan mulsa plastik untuk mengurangi pertumbuhan gulma yang cepat. Mulsa ini juga berfungsi untuk menjaga kestabilan sifat fisik dan kimia tanah pada lahan bedengan selama proses pertanaman.
6.         Sortasi Stek
   Setelah ditangkarkan selama 14-21 hari, stek-stek kemudian disortasi kelayakannya sebelum ditanam atau dikirim ke tempat lain. Sortasi dilakukan agar perakaran lebat dan sehat, tidak ada gejala terinduksi pembungaan awal (pentulan), tidak ada gejala klorosis, tidak kerdil dan berbatang kuat, tidak terdapat serangan hama dan penyakit.
7.         Pemindahan Bibit
Bibit stek pucuk siap dipindahtanamkan ke kebun pada umur 10-14 hari setelah semai dan bibit dari kultur jaringan bibit siap pindah yang sudah berdaun 5-7 helai dan setinggi 7,5-10 cm.




III.               METODE  PRAKTIK KERJA LAPANG


A.                 Tempat dan Waktu
            Praktik kerja lapang akan dilaksanakan selama satu bulan pada bulan Juli 2011 sampai dengan bulan Agustus 2011. Tempat Kerja Praktik Di  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta
.
B.              Materi Praktik Kerja Lapang
            Materi yang dikaji dalam praktik kerja lapang, yaitu:
1.      Kegiatan pembibitan vegetatif tanaman krisan
2.      Sistem manajemen di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta.

C.                  Metode Pelaksanaan
            Metode yang digunakan dalam praktik kerja lapang adalah:
1.       Berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembiakan vegetatif krisan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta.
2.       Survei terhadap kegiatan pembiakan vegetatif kirsan di  Balai pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta
3.       Wawancara, mengajukan pertanyaan kepada para staf dan pekerja setempat yang menangani pembibitan tanaman krisan pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta


D.                Cara Pengambilan Data
1.       Data Primer
Data  primer diperoleh dari hasil survei, pengamatan, dan praktik langsung serta wawancara dengan staf dan pekerja Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Yogyakarta mengenai teknik pembibitan vegetatif tanaman krisan
2.       Data sekunder
Data sekunder diperoleh dari:
a.       Data informasi yang ada BPTP Yogyakarta.
b.       Catatan, buku, dokumen, dan pustaka lain yang berhubungan dengan teknik pembibitan vegetatif tanaman krisan






VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.   Tinjauan Umum BPTP Yogyakarta
1.    Letak Geografis BPTP Yogyakarta
BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian), Yogyakarta beralamat di Jl. Rajawali no 28, Demangan Baru. Terletak di dusun Karangsari, Kelurahan Wedomertani, Kecamatan Ngamplak, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jarak antara kantor BPTP Yogyakarta dengan Ibukota propinsi berkisar antara 6-7 km. BPTP Yogyakarta, berbatasan langsung dengan:
1.      Sebelah Timur              : Rumah penduduk dan tegalan
2.      Sebelah Selatan            : Lahan tegalan
3.      Sebelah Barat               : Rumah penduduk
4.      Sebelah Utara               : Jalan Karangsari
BPTP Yogyakarta terletak pada ketinggian 115 m dpl dan temperaturnya mencapai 28 oC. tekstur tanah di BPTP Yogyakarta, adalah jenis tanah pasir berdebu dengan pH = 6,5. Tanah di BPTP Yogyakarta mengandung abu vulkanik karena terletak dekat lereng Gunung Merapi. Tanaman yang dibudidayakan di daerah tersebut beraneka ragam, mulai padi, palawija, sayuran dan tanaman hortikultura lainnya.



2.    Sejarah Perkembangan BPTP Yogyakarta
BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian), Yogyakarta adalah Unit Pelaksana Teknis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, dibentuk berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 350/Kpts/OT.210/6/2001 yang telah direvisi dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 633/Kpts/OT.210/12/2003 terdiri dari satu pejabat eselon IIIa (Kepala Balai) dan dua pejabat eselon IVa yaitu Kepala sub bagian Tata Usaha dan Kepala Seksi Pelayanana Teknis serta Pejabat Fungsional (Peneliti/Penyuluh/fungsional lainnya).
Sebelum SK Menteri Pertanian No.350/Kpts/OT.210/12/6/2001, BPTP Yogyakarta semula bernama Instansi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IPPTP) Yogyakarta, yaitu sejak 13 Desember 1994 – 13 Juni 2001. Balai ini awalnya merupakan penggabungan antara Balai Informasi Pertanian (Fungsi Penyuluhan Pertanian), Stasiun Penelitian Tanah dan Agroklimat (Fungsi Penelitian), dan Laboratorium Hortikultura Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada periode waktu tersebut BPTP Yogyakarta merupakan unit pelaksana teknis dari BPTP Jawa Tengah.
Perubahan status dari IPPTP menjadi BPTP Yogyakarta merupakan realisasi program pemerintah dalam menyediakan institusi penghasilan teknologi disetiap propinsi diseluruh Indonesia. Tujuan utama pembentukan BPTP Yogyakarta adalah untuk menghasilkan teknologi pertanian spesifik lokasi dan memperpendek rantai informasi serta mempercepat dan memperlancar diseminasi hasil pertanian (alih teknologi) kepada para petani, dan pengguna teknologi lainnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.
BPTP Yogyakarta merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bidang pengkajian dan diseminasi taknologi pertanian yang dihasilkan oleh berbagai lembaga penelitian, dari dalam maupun luar negeri. Teknologi pertanian yang dikaji dan didesiminasikan oleh BPTP Yogyakarta dapat berasal dari karya pemikiran sendiri, BPTP lain, atau dari hasil improvisasi teknologi daerah atau lokal (indigenous).
Perkembangan sampai saat ini, BPTP Yogyakarta menempati 3 tempat kantor yang terdiri dari:
1)   Kantor Utama berlokasi di Karangsari meliputi Administrasi, Kepegawaian, Rumah Tangga, Umum, Kelompok Pengkajian Budidaya, Sosial Ekonomi, Pasca Panen, dan Sumberdaya menempati kantor tersebut.
2)   Laboratorium Tanah dan Pasca Panen Pertanian berlokasi di Karangsari sebelah barat.
3)   Mess BPTP Yogyakarta, berlokasi di Jl. Rajawali No. 28 Demangan Baru, Yogyakarta.








3.    Struktur Organisasi BPTP Yogyakarta






























a.    Organisasi Struktural
Jabatan Struktural terdiri dari (1) kepala balai yang bertugas memimpin pelaksanaan kegiatan Balai dengan memberdayakan secara optimal seluruh sumberdaya manusia yang ada untuk mencapai visi dan misi dan dalam melaksanakan mandat Balai, (2) Sub. Bagian Tata Usaha yang bertugas mengelola berbagai kegiatan yang berkaitan dengan urusan kepegawaian, keuangan, surat-menyurat, kearsipan, perlengkapan dan pengembangan teknologi pertanian, dan (3) Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian yang mempunyai tugas melakukan pengelolaan yang berkaitan dengan pelayanan informasi, kerjasama dan pelayanan sarana penelitian.
b.    Organisasi Fungsional
Kelompok jabatan fungsional terdiri dari jabatan fungsional peneliti, penyuluh, dan jabatan fungsional lain yang terbagi dalam kelompok jabatan fungsional sesuai dengan bidang keahlian yang ditetapkan oleh Kepala Badan Peneliti dan Pengembangan Pertanian. Kelompok jabatan fungsional ini mempunyai tugas melakukan kegiatan sesuai dengan jabatan fungsional di BPTP Yogyakarta yang terbagi dalam kelompok pengkaji (Kelji). Masing-masing dikoordinir oleh seorang tenaga fungsional sebagai ketua Kelji. Keempat Kelji tersebut adalah Kelji Sumberdaya, Kelji Budidaya, Kelji Pascapanen dan Alsinstan, serta Kelji Sosial Ekonomi Pertanian.
Selain kedua jalur organisasi tersebut diatas terdapat dua jalur organisasi non struktural dan non fungsional yaitu Keproyekan dan Koordinasi Program Pengkajian. Kedua jalur organisasi tersebut pada kenyataannya dalam melaksanakan tugas sangat membutuhkan koordinasi langsung dengan Kepala Balai, sehingga dipandang perlu diakomodasikan dalam struktural organisasi untuk memberikan gambaran yang lebih jelas dalam sistem koordinasi dan manajemen balai.
4.    Sarana dan Prasarana Penelitian
Sarana dan Prasarana yang dimiliki BPTP Yogyakarta meliputi gedung perkantoran, pertemuan, perpustakaan, laboratorium tanaman, laboratorium ternak, laboratorium pasca penen dan alianstan, alat transportasi/kendaraan, peralatan kantor dan multi media untuk mendukung operasional Balai. Disamping itu, juga memiliki sejumlah bangunan rumah dinas untuk sebagian karyawan dan guesthouse/ mess.
Laboratorium telah berfungsi dengan baik kecuali untuk laboratorium tanaman yang belum berfungsi optimal karena keterbatasan beberapa peralatan yang dimiliki. Selama ini pemanfaatan laboratorium selain untuk menunjang kegiatan staf lingkup BPTP Yogyakarta, juga dimanfaatkan oleh pihak luar (mahasiswa dan instansi pemerintah maupun swasta).
Perpustakaan dengan koleksi cukup memadai, baik yang berupa buku ilmiah sebanyak 566 buah, proseding sebanyak 109 buah, majalah dan jurnal ilmiah sejumlah 394 buah, brosur sejumlah 86 buah, liptan sejumlah 70 buah telah banyak bermanfaat dalam pustaka pelayanan informasi IPTEK bagi pengguna, yang bukan saja karyawan lingkup BPTP Yogyakarta tetapi juga petani, masyarakat umum, mahasiswa, petugas dari berbagai instansi pemerintah maupun swasta. Perpustakaan BPTP Yogyakarta adalah salah satu unit kegiatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan para pengguna jasa informasi teknologi pertanian. Unit ini sangat diperlukan oleh berbagai kalangan pengguna yaitu peneliti, penyuluh, petani, masayarakat umum, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Sistem layanan perpustakaan BPTP Yogyakarta bersifat terbuka baik untuk pengguna intern maupun ekstern.
Tabel 2. Pengunjung Perpustakaan BPTP Yogyakarta 2009
NO
Instansi/ profesi
Jumlah
Persentase (%)
1
Peneliti
317
32,98
2
Penyuluh
221
22,95
3
Staf BPTP Yogyakarta
158
16,50
4
Dinas terkait
22
2,28
5
Swasta
14
1,45
6
Petani
15
1,56
7
Mahasiswa
143
14,86

Jumlah
961
100


5.    Tugas Pokok dan Fungsi BPTP Yogyakarta
a.     Tugas Pokok
Berdasarkan peraturan Menteri Pertanian, BPTP mempunyai tugas melaksanakan kegiatan penelitian komoditas, pengkajian perakitan dan pengembangan teknologi tepat guna spesifik lokasi untuk wilayah Propinsi DI. Yogyakarta.
b.    Fungsi
BPTP Yogyakarta dalam melaksanakan tugas-tugas fungsionalnya, menyelenggarakan fungsi :
1.    Inventarisasi dan identifikasi kebutuhan teknologi pertanaian tepat guna spesifik lokasi.
2.    Penelitian, pengkajian dan perakitan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi.
3.    Pengembangan teknologi dan diseminasi hasil pengkajian serta perakitan materi penyuluhan.
4.    Penyiapan kerjasama, informasi, dokumentasi, serta penyebarluasan dan pendayagunaan hasil pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi.
5.    Pemberian pelayanan teknis kegiatan pengkajian, perakitan, penelitian, dan pengembangan teknologi pertanian guna spesifik lokasi.
6.    Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai.
6.    Visi dan Misi BPTP Yogyakarta
a.     Visi
Menjadi institusi penghasil teknologi pertanian spesifik lokasi menuju pertanian industrial unggul berkelanjutan berstandar internasional untuk meningkatkan kemandirian pangan, nilai tambah, ekspor dan kesejahteraan masyarakat pertanian.
b.    Misi
1.    Menghasilkan dan mengembangkan inovasi-inovasi pertanian spesifik lokasi yang diperlukan dan dimanfaatkan oleh petani, stakeholder dan sesuai permintaan pasar guna mendukung pembanganan sektor pertanian wilayah.
2.    Meningkatkan percepatan diseminasi teknologi pertanian inovatif dan spesifik lokasi.
3.    Meningkatkan jaringan kerjasama dengan lembaga penelitian pertanian internasional, nasional, maupun pihak swasta.
4.    Mengembangkan kapasitas kelembagaan BPTP dalam rangka meningkatkan pelayanan prima.

B.     Ekologi desa Hargobinangun
a.       Letak, Batas, dan Luas
Daerah penelitian termasuk di dalam wilayah Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Letak Kecamatan Pakem dari Ibukota Kabupaten Sleman kurang lebih berjarak 11 kilometer kearah Timur Laut, sedangkan dari Ibukota Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berjarak 17 kilometer kearah Utara (Kantor Kecamatan Pakem; 2002). Daerah penelitian secara administratif dibatasi oleh :
(a) Utara       : Kawasan Kehutanan Kabupaten  Magelang Jawa Tengah.
(b) Timur       : Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman.
(c)  Selatan    : Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman.
(d) Barat       : Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman.
Luas Kecamatan Pakem seluruhnya 4.384,04 ha atau 43,8404 km2 yang terbagi atas 5 desa yaitu : Desa Purwobinangun, Desa Candibinangun, Desa Harjobinangun, Desa Pakembinangun, dan Desa Hargobinangun.
Daerah penelitian terletak di Desa Hargobinangun yaitu di Kawasan Obyek Wisata Kaliurang. Kemudian pada bagian ini akan dikemukakan mengenai keadaan umum Desa Hargobinangun mengenai kondisi fisik maupun kondisi penduduk  daerah penelitian, agar diperoleh gambaran yang jelas daerah penelitian
Secara administrasi Desa Hargobinangun merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Pakem yang letaknya paling utara yang banyak mempunyai potensi obyek wisata pegunungan. Secara astronomis kawasan wisata Kaliurang yang terletak di Desa Hargobinagun terletak antara 7° 35’ 20” LS sampai 7° 36’ 00” LS dan 110° 36’ BT sampai 110° 37’ BT.
Menurut orbitan atau jarak dari pusat pemerintahan desa/keluruhan :
(a)    Jarak dari pusat pemerintahan kecamatan : 3 km
(b)   Jarak dari pusat ibukota kabupaten           : 14 km
(c)    Jarak dari pusat ibukota propinsi               : 21 km
(d)   Jarak dari pusat ibukota negara                 : 565 km
Desa Hargobinangun mempunyai luas wilayah 1430 hektar. Secara administrasi terdiri dari 12 dusun, 64 RT dan 28 RW. Adapun nama dusun dan luas wilayah terdapat pada Tabel 1.



Tabel 1. Nama dan Luas Wilayah Dusun di Desa Hargobinangun

No

Nama Dusun

Luas
Hektar
%
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
Jetisan
Sawungan
Purworejo
Banteng
Boyong
Ngipiksari
Kaliurang Timur
Kaliurang Barat
Pandanpuro
Randu
Tanen
Wonorejo
41,66
74,50
110,62
115,79
189,41
137,42
151,42
145,83
114,50
105,00
108,44
135,41
 2,91
 5,21
 7,74
 8,10
13,25
  9,61
10,59
10,19
 8,01
 7,34
 7,58
 9,47

Jumlah
1430,00
100

b.      Topografi
Daerah penelitian termasuk di wilayah Pakem terletak pada ketinggian 600 meter sampai 1.325 meter. Kondisi topografi secara umum merupakan suatu pegunungan yaitu pegunungan vulkanik atau gunung api. Kemiringan lereng dari arah Selatan ke Utara menunjukan kenaikan secara gradual, dimana pada beberapa tempat terdapat tekuk lereng sehingga perbedaan kelas lereng jelas kelihatan, dengan kemiringan lereng berkisar antara 2% sampai 40%.
Berdasarkan ketinggian tempat dan kemiringan lereng tersebut maka topografi Kecamatan Pakem terbagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1.      Datar sampai berombak, seluas 1.972,8000 hektar atau 45 persen dari seluruh luas Kecamatan Pakem, dengan kemiringan lereng 2% - 15% dan ketinggian tempat 600 m- 800 m diatas permukaan air laut. Daerah ini membujur dari arah Selatan hingga kebagian tengah dari wilayah Kecamatan Pakem yang meliputi Desa Pakembinangun, Harjobinangun dan Candibinangun.
2.      Berombak sampai berbukit, seluas 1.534,4000 hektar atau 35 persen dari seluruh luas wilayah Kecamatan Pakem, dengan kemiringan lereng antara 15% - 40% dan ketinggian tempat antara > 800 m – 1000 m. Daerah ini terletak pada bagian tengah hingga sebagian bagian Utara dari wilayah Kecamatan Pakem yang meliputi desa: Hargobinangun, Candibinangun dan Purwobinangun.
3.      Berbukit sampai bergunung, seluas 828,8000 hektar atau 20 persen dari seluruh luas Kecamatan Pakem yang meliputi desa: Hargobinangun dan Purwobinangun (Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman : 2002).
 Kenampakan topografi dari arah Timur ke Barat yang kurang lebih sejajar garis kontur, tidak banyak menunjukan perbedaan kecuali pada lembah-lembah sungai. Pada beberapa lembah sungai terlihat sangat lebar dan dalam seperti pada lembah kuning.
Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem berada di lereng Merapi Selatan dengan ketinggian 700 – 1325 m di atas permukaan air laut. Daerah tersebut mempunyai topografi miring landai ke selatan dan merupakan dataran tinggi. Kenampakan topografi yang indah ini menarik wisatawan untuk menikmatinya ditambah dengan kesejukan udaranya. ( Pemerintahan desa hargobinangun. 2008 )

c.       Jenis Tanah
Tanah merupakan faktor penting bagi penduduk, karena faktor tanah dapat mempengaruhi kehidupan perekonomian penduduk yang dijadikan sebagai mata pencaharian. Jenis tanah dikawasan Desa Hargobinangun adalah tanah regosol vulkan yang masih muda, belum mengalami diferensiasi horison. Proses kegunungapian Merapi pada masa lalu telah membentuk tatanan batuan yang khas di kawasan Kaliurang. Sehingga jenis tanah ini mempunyai sedikit atau belum banyak perkembangan profilnya, tebal solum tanah umumnya tidak melebihi 25 cm. Tanah ini berwarna kelabu hingga cokelat keabu-abuan. Kandungan unsur haranya masih rendah dan tingkat pelapukan bahan induknya baru tingkat permulaan dan biasanya miskin akan hidrogen. Reaksi tanahnya adalah netral, agak asam sampai asam (Diparta Kabupaten Sleman : 2002). Kondisi yang khas ini yang jarang dijumpai di tempat lain dapat menarik orang untuk melihatnya sehingga dapat menjadi bagian dari objek wisata.


C.     Teknik pembiakan vegetatif tanaman krisan

a.      Persiapan lahan indukan
Penyiapan lahan bedengan dilakukan dengan terlebih dahulu mengolah tanah yang digunakan sebagai lahan tanam dengan mencangkul tanah sedalam +30 cm hingga tanah tampak gembur, kemudian di berokan lahan tersebut secara terbuka tanpa di tutupi hingga 10-15 hari. Hal ini di maksudkan agar upa-uap tanah yang mungkin mengganggu kelangsungan pertumbuhan tanaman yang tekandung di dalam tanha telah keluar dan hilnag. Setelah 10-15 hari pencangkulan d ilakukan pencangkulan berikutnya yang bertujuan unuk membuat bedengan atau petakan dengan ketinggian bedengan 20 cm dan lebar 1 m. panjang bedengan 10m . bedengan di buat dengan memberikan jarak sekitar 30 cm tiap lajurnya.
  Pengolahan tanah yang baik yakni mengubah struktur tanah sedemikian rupa sehingga struktur tanah remah. Menurut syaifuddin Sarief( 1989) struktur tanah merupkana sifat fisik tanah yang penting kerena struktur tanah dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara tidak langsug berupa perbaikan peredaran air, udara, dan suhu, aktifitas mikrooganisme tanah tersedianya unsur hara bagi tanaman serta perombakan bahan organik. Adapun pengaruh secara langsung struktur tanah menurut Kartasapoetra ( 1989) yakni pada pergerakan akar tanaman. Dengan demikian pengolahan tanah yang baik akan menjadikan tanha berstruktur remah sehingga memudahkana pertumbuhan dan perkembangan akarat anaman.

b.      Pemberian pupuk
Pupuk yang di gunakan petani krisan di desa hargobinangun menggunakan pupuk kompos yang di buat menggunakan kotoran ternak ( kambing ) yang di buat dengan cara
-          Siapkan lahan untuk membuat pupuk kompos
-          Buat lapisan
-          Tiap lapisan di beri dekomposer dengan merek Primadec yang berfungsi untuk mempercepat proses dekomposisi, kemudian berikan pupuk urea untuk memberikan sumber energi bagi dekomposer untuk mempercepat proses pembuatan kompos
-          Lakukan pelapisan dan pemberian pupuk serta dekomposer secara berturut-turut sampai ketinggian sektiar 50 cm .
-          Tutup dengan plastik lahan pembuatan pupuk kompos agar proses dekomposis menjadi lebih cepat dan tidak terganggu.
Bahan organik dari pupuk kompos berperan sebagai pembentuk butir ( granulator) dari butir-butir mineral, yang menyebabkan terjadinya keadaan gembur pada tanah, di samping itu bahan organik merupakan suber poko dari dua unsur phospor dan sulfur dan merupaka nsatu-satunya sumber nitrogen. Terhadap sifat fisik tanah, Bahan organik mendorong daya menahan air tanah dan mempertinggi jumlah air yang tersedia untuk kehidupan tumbuhan ( Buckman and Brady, 1982 )

Gambar : pembuatan pupuk kompos
Gambar : penutupan pupuk kompos menggunakan plastik
c.       Pembuatan rumah plastik.
Rumah plastik terbuat dari bambu, kayu. Atap berupa plastik UV atau bahan lain yang transparan, dinding rumha berupa screen atau paranet. Rumah plastik dilengkapi dengan bai atau drum penampung air untuk pengarian dan pemeliharaan tanaman, rangkaian listrik untuk pemberian cahaya tambahan.
Gambar : pembuatan rumah plastik
                         Gambar : pembuatan rumah plastik
d.      Instalasi listrik untuk pemberian cahaya tambahan
Pemberian tambahan cahaya dengan menggunakan lampu pijar 75-100 watt atau TL 40 wat pada setiap titik, diatur dengan menggunakan timer. Titik lampu berjarak 22 m2 dan tinggi lampu sekitar 1,5-2 M di atas pemukaan bedengan.  Pada tanaman indukan pemberian cahaya tambahan sangat penting karena tanaman krisan membutuhkan cahaya lebih unuk menghasilkan stek yang lebih banyak dan berkualitas.
Gambar : pemberian cahaya tambahan
e.      Persiapan indukan bibit stek krisan
. Sebagai salah satu alternative dalam usaha pengadaan benih krisan secara konvensinal melalui perbanyak vegetative dengan cara memisahkan anakan atau dengan sistem stek pucuk ( cutting system ). Dengan sistem ini benih yang di hasikan genotifnya telah di ketahui dan dapat di buat pada waktu yang singkat.
Indukan di peroleh dari tanaman krisan yang sehat, kemudian di lakukan kultur jaringan untuk memperoleh bibit tanaman indukan yang lebih unggul. Setelah tumbuh bibit krisan di tanam di dalam media sekam bakar yang telah di rendam dengan fungisida selama 15 menit. Kemudian di tiriskan/di kering anginkan agar media( sekam bakar ) kadar airnya tidak berlebihan yang dapat mengakibatkan timbulnya pembusukan pada perakaran tanaman krisan. Setelah penirisan selama 1 jam ambil bibit krisan yang berada di dalam botol dengan menggunakan pencapit dan sendok khusus agar memudahkan dalam pencabutan. Selama pencabutan media kultur jaringan harus ikut terbawa agar tidak merusak perakaran bila pencabutan dengan menarik batang bibit.  Bibit kemudian di bersihkan dari sisa-sisa kultur jaringan dan jamur yang mulai tumbuh agar tidak mengganggu selama proses pertumbuhan vegetatif.
Gambar : Tahap-tahap Pemindahan bibit kulutr jaringan
         
Tahap tahap dalam pembentukan calon tangkai yang akan di ambil sebagai bibit adalah sebagai berikut
a.       Pemotongan pucuk
Pemotonngan pucukan dilakukan setelah tanaman induka nberusia 2 minggu setalah tanam. Pemotongan dilakukan agar tanaman mengalamo pencabangan atau membuat cabang baru denghan tumbuh tunas baru pada batang tanman. Pemotngan dilaukan dengan cara memotong tunas pucuk tanaman sepanjang 0,5cm - 1 cm.
b.      Persiapan penumbuhan cabang utama
Pemotongan pucukan yang telah di lakukan diharapkan akan menumbuhkan tunas- tunas baru serta sehat dan tunas- tunas baru ynag tumbuh tersebut diperisapkan antara 2-4 tunas. Tunas- tunas tersebut yang akan di gunakan sebagai cabang utama tanaman indukan.
c.       Persiapan penumbuhan cabang sekunder
Cabang sekunder merukapan cabang baru dari cabang utama, dan untuk menumbuhkan cabang sekudner pada cabang utama perlu dilakukan pemotongan pada cabang utama seperti pada saat persiapan pucukan. Pada masing –masing cabang utama yang telah tumbuh antara 15-20 cm dapat di lakukan pemotongan sepanjang 0.5-1 cm.
Dari tunas- tunas yang tumbuh di cabang sekunder terserbut bakal stek pucuk dapat di peroleh. Lakukan pemotongan pucukan apabila panjang cabang telah mencapai panjang antara 10-15 cm dan kegiatan pemotongan dapat di lakukan setiap 1 atau 3 minggu sekali. Kegiatan pemotongan pucukan dapat di hentikan bila tanaman indukan telah mengalami masa siap berbunga yang biasanya di ketahui dengan munculnya kuncup bunga.  Apabila tanaman indukan tersebut telah mengalami fase vegetatif atau muncul kuncup bunga sebaiknya tanaman indukan diganti dengan mempersiapkan tanaman indukan baru.
Kegiatan pemotongan juga perlu di hentikan apabila pertumbuhan cabanga baru tananaman indukan setalah di potong mengalamo penurunan bentuk seperti mengeci latau rusak, dan hal ini biasa terjadi pada tanaman indukan yagn telah mencapai usia tertentu.
Tanaman induk krisan selalu dipelihara dalam fase juvenil agar stek pucuk yang dihasilkan memiliki potensi pertumbuhan vegetatif yang maksimum. Potensi pertumbuhan ini ditentukan oleh respons genotip tanaman terhadap kondisi lingkungan. Di kondisi lahan terbuka, faktor-faktor lingkungan ini dapat berada pada taraf suboptimal (Mortensen 2000) dan secara simultan dapat memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan penampilan tanaman induk yang pada akhirnya mempengaruhi produksi dan kualitas stek yang dihasilkan (Moe 1988). Penurunan kualitas stek sebagai bahan tanam selanjutnya akan mempengaruhi kualitas pertumbuhan tanaman dan bunga yang dihasilkan pada masa produksi berbunga (Grunewaldt 1988).
f.        penyetekan
Dilakukan pada tnaman muda yang telah memiliki 7 helai daun (15 hst), penyetekan dengan menggunakan pisau atau gunting stek yang tajam dan steril. Tunas di potong dengan kriteria 4-5 daun sempurna dan menyisakan 2-3 daun pada batang/ranting bekas setekan ( 2-3 ruas). Pisau atau gunting stek setiap melakukan pemotongan sebaiknya di celupkan kedalam alkohol 70%. Tunas tunas stek segera di tempatkaan yang sejuk dan lembab. Selang waktu panen stek sekitar 2-3 minggu sekali biar tunas akselir yang tumbuh telah memiliki 5-7 daun
Panen stek dilakukan setiap 3 minggu sekali dengan memotong tunas apikal yang tumbuh sepanjang 5-7 cm, atau bila tunas tersebut telah memiliki setidaknya 5-7 daun sempurna. Tunas dipotong dengan gunting stek dan menyisakan 2-3 ruas daun.


SP_A0182




       
Gambar : ‘Stek tanaman krisan.
g.      Penyemaian dan penanaman
Secara umum media tanam yang banyak digunakan adalah berupa bahan yang mempunyai kapasitas menahan air dan mempunyai aerasi serta drainase yang baik (Balai Penelitian Tanaman Hias, 2008). Menurut Badriah (2007) media yang dapat digunakan untuk perakaran stek adalah arang sekam ( carbonized rice hull ), sekam, pasir, cocopeat atau bahan lain dengan sifat serupa yang sebelumnya telah disterilkan terlebih dahulu. Media tumbuh perakaran stek yang digunakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta adalah arang sekam ( carbonized rice hull ).
Penyemaian di bak : tempat atau lahan pesemaian berupa bak-bak berukuran lebar 80 cm, kedalaman 25 cm, panjang disesuaikan dengan kebutuhan dan sebaiknya bak berkaki tinggi. Bak dilubangi untuk drainase yang berlebihan. Medium semai berupa pasir steril hingga cukup penuh. Semaikan setek pucuk dengan jarak 3 cm x 3 cm dan kedalaman 1-2 cm, sebelum ditanamkan diberi Rotoon (ZPT) . Penyemaian di polibag kecil : stek pucuk di tanam pada polibag kecil yang telah di isi tahah serta pupuk kompos  yang telah di buat sebelumnya
Penanaman untuk tanaman produksi bunga di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta dilakuakan dengan menggunakan bahan tanam berupa stek berakar yang ditanam pada lahan bedengan dengan jarak tanam 10 x 10 cm (kerapatan tanam 100 tanaman/m2). Tanaman krisan yang sudah ditanam, diberi jaring penegak, untuk menjaga tanaman agar tetap tegak pada waktu tanaman sudah tumbuh tinggi. Penanaman bibit sebaiknya dilakukan pada sore hari dimana suhu udara sudah tidak terlalu panas. Segera setelah tanam dilakukan penyiraman agar bibit yang baru ditanam terikat dengan tanah dan tidak rebah.

Gambar : kotak persemaian
Gambar: pemberian jaring penegak tanaman krisan
h.      Pemeliharaan persemaian stek pucuk krisan
Pemeliharaan bibit stek pucuk meliputi penyiraman menggunakan sprayer minimal 2 kali sehari , penyiraman harus di lakukan hati-hati untuk mencegah kerusakan pada tanaman yang masih kecil. Pemberiaan air yang dilakukan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta menggunakan metode drip atau siraman yang dilaksanakan setiap 2 hingga 3 kali seminggu tergantung kondisi tanaman dan lingkungan.
 penyulaman tanaman yang tidak tumbuh atau pertumbuhannya tidak normal Penyulaman paling lambat dilakukan 2 minggu setelah pertanaman, agar pertumbuhannya dapat seragam dan tidak tertinggal dari tanaman yang lain.    Penyulaman terkadang dilakukan lebih dari 2 minggu karena banyak tanaman yang mati karena penyakit dan lain-lain. Penyulaman dilakuakan dengan cara menanam bibit untuk penyulaman pada baris pinggir bendengan dengan jumlah yang diperkirakan cukup. Dengan demikian pertumbuhan bibit untuk sulaman masih dapat mengeejar tanaman lainnya ketika dipindahan sebagai tanaman pengganti. Jika sudah tidak dibutuhkan lagi, maka bibit untuk sulaman harus dibuang atau dicabut
i.        Pengendalian hama dan penyakit
Hama
1.      Ulat tanah (Agrotis ipsilon)
Gejala: memakan dan memotong ujung batang tanaman muda, sehingga pucuk dan tangkai terkulai.
Pengendalian: mencari dan mengumpulkan ulat pada senja hari dan semprot dengan insektisida.
2.      Thrips (Thrips tabacci)
Gejala: pucuk dan tunas-tunas samping berwarna keperak-perakan atau kekuning-kuningan seperti perunggu, terutama pada permukaan bawah daun.
Pengendalian: mengatur waktu tanam yang baik, memasang perangkap berupa lembar kertas kuning yang mengandung perekat, misalnya IATP buatan Taiwan.
3.      Tungau merah (Tetranycus sp)
Gejala: daun yang terserang berwarna kuning kecoklat-coklatan, terpelintir, menebal, dan bercak-bercak kuning sampai coklat.
Pengendalian: memotong bagian tanaman yang terserang berat dan dibakar dan penyemprotan pestisida.
4.      Penggerek daun (Liriomyza sp) :
Gejala: daun menggulung seperti terowongan kecil, berwarna putih keabuabuan yang mengelilingi permukaan daun.
 Pengendalian: memotong daun yang terserang, penggiliran tanaman, dengan aplikasi insektisida.


Penyakit
1.  Karat/Rust
Penyebab: jamur Puccinia sp. karat hitam disebakan oleh cendawan Pchrysantemi, karat putih disebabkan oleh P horiana P.Henn.
Gejala: pada sisi bawah daun terdapat bintil-bintil coklat/hitam dan terjadi lekukan-lekukan mendalam yang berwarna pucat pada permukaan daun bagian atas. Bila serangan hebat meyebabkan terhambatnya pertumbuhan bunga.
 Pengendalian: menanam bibit yang tahan hama dan penyakit, perompesan daun yang sakit, memperlebar jarak tanam dan penyemprotan insektisida.
2. Tepung oidium
Penyebab: jamur Oidium chrysatheemi.
Gejala: permukaan daun tertutup dengan lapisan tepung putih. Pada serangan hebat daun pucat dan mengering.
 Pengendalian: memotong/memangkas daun tanaman yang sakit dan penyemprotan fungisida.
3. Virus kerdil dan mozaik
Penyebab: virus kerdil krisan, Chrysanhenumum stunt Virus dan Virus Mozaoik Lunak Krisan (Chrysanthemum Mild Mosaic Virus).
Gejala: tanaman tumbuhnya kerdil, tidak membentuk tunas samping, berbunga lebih awal daripada tanaman sehat, warna bunganya menjadi pucat.
 Penyakit kerdil ditularkan oleh alat-alat pertanian yang tercemar penyakit dan pekerja kebun.
 Virus mosaik menyebabkan daun belang hijau dan kuning, kadang-kadang bergaris-garis.
 Pengendalian: menggunakan bibit bebas virus, mencabut tanaman yang sakit, menggunakan alat-alat pertanian yang bersih dan penyemprotan insektisida untuk pengendalian vektor virus.
j.        Soratasi stek
Setelah penangkaran selama 14-21 hari, stek-stek kemudian disrotasi kelayakannya sebelum di tanam atau dikirim ketempat lain. Soratasi dilakukan agara perakaran lebat dan sehat, tidak ada gejala terinduksi pembungaan awal ( pentulan ) tidak ada gejala klorosis. Tiak kerdil dan berbatang kuat, tidak terdapat serangan hama dan penyakit.

k.      Pemindahan stek
      Bibit stek pucuk siap dipindahtanamkan ke kebun pada umur 10-14 hari setelah semai dan bibit dari kultur jaringan bibit siap pindah yang sudah berdaun 5-7 helai dan setinggi 7,5-10 cm.
l.        Pengolahan lahan pertanaman stek
Tanah di olah sedalam 30 cm, kemudian di berokan selama 10- 15 hari dan di biarkan mengering, di usahakan agar tidak terkena air/tebasahi. tanah di olah kembali dengan membuat bedengan setinggi 25-30 cm dengan lebar 1 m memanjang searah dengan rumah lindung dengan jarak antar bedengan 50 cm. pada saat membuat bedengan di perikan POM 30 ton/ ha, urea 200 kg/ha, SP36 300 kg /ha dan di campur dengan diaduk sampai rata. Di beri kapur dolomite 3-4,5 ton/ha serta pemberian pupuk kompos sebagai pupuk dasar
Gambar : persiapan lahan pembiakan vegetatif  krisan

m.    Pemilihan bibit
Varietas  yang di gunakan adalah sakuntala, puspita nusantara, shamrock, wastukania dn kusuma wijaya. Bibit dipilih dari indukan yang produktif dan sehat, perakaran lebat, vigor dan daun telah mempunyai daun minimal 3-4 helai. Benih stek telah melalui porses penakaran selama 15 hari.
Gambar : salah satu varietas yang di gunakan petani di tempat PKL

D.    Permasalahan pembiakan vegetatif tanaman krisan
Permasalahan yang timbul dalam penyediaan bibit tanaman krisan adalah pada saat pemangkasan indukan krisan memerlukan ketepatan waktu dan kondisi indukan tanaman krisan sehingga perkembangan cabang sekunder tanaman krisan yang digunakan sebagai calon stek pucuk dapat tumbuh optimal. Permasalahan lainnya adalah pada saat perawatan khususnya penyiraman di anjurkan menggunakan sprayer agar air yang keluar tidak merusak tanah atau percabangan tanaman krisan yang masih muda selain itu penyiraman pada calon indukan tanaman krisan sebaiknya dengan meyiram pangkal batang tanaman krisan sehingga tidak terjadi genangan air pada daun krisan yang masih dalam tahap analisa dapat menyebabkan timbulnya karat daun, tetapi hal tersebut masih dalam tahap analisis dari peneliti di BPTP yogyakarta.
Permasalahan lain dalam proses pengembangan bibit stek tanaman krisan adalah perlunya tempat khusus dalam penyediaan bibit tanaman krisan sehingga untuk kalangan petani hal tersebut masih sulit untuk di laksanakan mandiri sehingga bantuan dana dan teknologi dari pemerintah sangat di butuhkan utnuk pengembangan budidaya tanaman krisan menggingat potensi pasar bunga krisan sangat menguntungkan bila di kelola dengan baik.



E.     Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat)
Analisis SWOT terdiri atas variabel internal yang meliputi kekuatan (Strenght) dan  kelemahan (Weaknees), serta faktor eksternal yang meliputi peluang (Opportunity) dan ancaman (Threats). Analisis SWOT bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai dasar dalam membantu perbaikan dan memajukan instansi yang lebih baik. Dalam rangka membantu usaha penyediaan bibit tanaman di desa hargobinangun maka dilakukan analisis mengenai keempat aspek tersebut sebagai berikut
1.        Strength (Kekuatan)
Kekuatan yang dimiliki oleh desa hargobinangaun dalam menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan dan mendukung tercapainya fungsi dan peran dari desa hargobingaun sebagai pemasok bibit tanaman krisan  ditinjau dari aspek:
a.  Sumber Daya Alam/ Lahan
Daerah hargobinangun terletak pada ketinggian 600 meter sampai 1.325 meter. Kondisi topografi secara umum merupakan suatu pegunungan yaitu pegunungan vulkanik atau gunung api. Kemiringan lereng dari arah Selatan ke Utara menunjukan kenaikan secara gradual, dimana pada beberapa tempat terdapat tekuk lereng sehingga perbedaan kelas lereng jelas kelihatan, dengan kemiringan lereng berkisar antara 2% sampai 40%. Sehingga dapat di simpulkan secara umum kondisi tanah di daerah hargobinangun tebilang sangat subur.
Potensi lain dari desa hargobinangun adalah dekatnya jarak desa dengan pusat pemerintahan yang memudahkan akses dalam pemasaran bunga krisan yang implementasinya akan meningkatkan permintaan jumlah bibit tanaman krisan
a.       Jarak dari pusat pemerintahan kecamatan : 3 km
b.      Jarak dari pusat ibukota kabupaten           : 14 km
c.       Jarak dari pusat ibukota propinsi               : 21 km
d.      Jarak dari pusat ibukota Negara                 : 565 km
Keadaan sarana dan prasarana pendukung adalah keadaan jalan yang masih dalam kondisi normal tanpa adanya kerusakan yanga berarti sehingga dapat menghambat dalam akses menuju desa hargobinganun atau dari hargobinangun ke pusat pemerintahan kota.
2.    Weakness (Kelemahan)
Kelemahan yang ada pada desa hargobinangun adalah kurangnya minat petani dalam mengusahakan tanaman krisan karena terkendala oleh jumlah modal yang harus di keluarkan dalam pengusahaaan tanaman krisan cukup tinggi
3.    Opportunity (Kesempatan).
Banyaknya jumlah universitas di Yogyakarta menjadikan kota Yogyakarta memliki banyak calon peneliti yang di harapkan dapat mengembangkan potensi tanaman krisan sebagai produk unggulan baru. Kota Yogyakarta juga merupakan kota tujuan pariwisata nasional sehingga kebutuhan tempat penginapan seperti Hotel menjadi sangat tinggi, untuk menarik wistawan pihak hotel dapat memperindah ruangan dengan bunga potong krisan yang memilik warna yang beranekaragam. Potensi – potensi tersebut sangat memunkinkan pengembangan usaha di bidang bunga hias khususnya tanaman krisan akan sangat menguntungkan.
4.      Threat ( Ancaman)
Ancaman yang dihadapi dalam pengembangan bunga krisan di desa hargobinangun adalah dektanya desa hargobinangun dengan gunung merapi ynag merupakan gunung yang sangat aktif sehingga dapat merusak areal pertanaman krisan bila terjadi letusan gunung merapi. Ancaman lainnya yaitu serangan karat daun yang paling sering di temukan sehingga dapat menurunkan kualitas bunga krisan dan ancaman lainnya adalah banyaknya tangan jahil yang memetik bunga krisan karena seringnya kunjungan dari instansi-instansi pemerintah maupun dari pihak civitas akademik. Ancman lain yang sangat mendasar dalam pengusahaan bunga krisan adalah adanya calo-calo yang membeli bunga krisan dengan harga di bawah pasran sehingga keuntungan petani pengelola menjadi kecil.







V.                 KESIMPULAN DAN SARAN

A.     KESIMPULAN
1.      Kondisi iklim desa hargobinangun memungkinkan di lakukannya pengembangbiakan bibit tanaman krisan
2.      Stek pucuk merupakan solusi di dalam pengembangan tanaman krisan di desa hargobinganun
3.      Penyakit yang menyerang tanaman krisan di desa hargobinangun adalah penyakit karat daun
4.      Penyetekan Dilakukan pada tanaman muda yang telah memiliki 7 helai daun ( 15 hst ), penyetekan dengan menggunakan pisau atau gunting stek yang tajam dan steril. Tunas di potong dengan kriteria 4-5 daun sempurna dan menyisakan 2-3 daun pada batang/ranting bekas setekan ( 2-3 ruas).

B.     SARAN
1.      Pencegahan penyakit karat daun sebaiknya di lakukan sewaktu dalam kondisi penyediaan tanaman induk yang sehat dan teknik pembibitan yang benar
2.      Pada saat masuk kedalam screen house di harapkan tidak membawa tanaman lain yang memungkinkan penyebaran penyakit atau hama yang dapat menyerang bibit krisan atau kondisi petani dalam keadaan steril
3.      Penggunaan varietas tahan karat merupakan solusi terbaik dalam mengatasi serangan penyakit karat




















DAFTAR PUSTAKA

Ahmad , J dan C. Marshall. 1997. The pattern of C-assimilate distribution in chysanthemun cv. Red delano with particular  reference to branch interrealtion. J. Of Hortic. Sci. 72 (6) : 931-939

Balithi, 2000. Krisan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura
(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian), Jakarta.

Badriah, D.S. 2007. Buklet Petunjuk Teknis Budidaya Krisan. Pusat   
           Penelitian dan Pengembangan Holtikultura  Badan  Penelitian dan  
           Pengembangan Pertanian, Jakarta.

Buckman, HO.,Nyle C. Brady. 1982. The Nature and Properties of Soil. A College Textof Edaphology. Sixth Edition. The Macmillan Company . New York.

Cahyono, F. B, 1999. Tuntunan Membangaun Agribisnis (edisi     pertama), Gramedia, Jakarta.

Chockshull, K. E. 1982. Disbudding and its effect on dry matter distribution in Chysantemum morifolium. J. Of Hortic. S.ci. 57(2) : 205-207.

Cockshull, K.E, 1976. Flower and Leaf Initiation by Chrysanthemum morifolium Ramat. In long days. J. Hort. Sci. 51; 441-450.

Davis, T. D. Dan J.R.Potter. 1981. Curent photosynthate as a limiting factor in adventitous root formation on leafy pea cutting J. Amer. Soc. Hort. Sci.106:278-282

De ruiter, H. A. 1997. Axillary bud formation in chysanthemum as affected by number of leaves. J.of. Hort. Sci. 72(1):77-82

De vier, C. I. dan R. L. Geneve. 1997. Flowering infuences adventitious root formation in chysanthemum cutting. Scentia hortic. 70 : 309-318

Deptan, 2005. Budidaya Tanaman Krisan. Diakses pada tanggal 8 mei 2005 dari http://www.dptan.go.id/ditlin horti/makalah/bd krisan.html. di akeses tanggal 20 juni 2011

Diskopjatim, 2005. Etalase. Diakses pada tanggal 12 juni 2011 dari http: //www.diskopjatim.go.id / lensa_1/Etalase.htm.

Dwiatmini, K., T. Sutater, dan D.H. Goenadi. 1996. Media tanam krisan   
dengan kompos dari lima macam limbah pertanianJurnal Hortikultura V(5) : 99 - 105.

Gaspersz, V, 1995. Teknik Analisis Dalam Penelitian Percobaan. Tarsito, Bandung

     Herlina, D., M. Reza, dan K. Dwiatmini. 1994. Pengaruh jenis lampu
dan lama penambahan cahaya buatan terhadap produktivitas tanaman krisan yang berasal dari kultur jaringan. Laporan Penelitian Instalasi Penelitian Tanarnan Hias Cipanas

Herlina, D., dan M. Reza. 1996. Pengaruh penyimpanan stek krisan tanpa akar dalam ruang dingin terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi bungaJurnal Hortikultura VI(2): 115 - 119.

Harjadi, S.S, 1989. Pengantar Agronomi. PT. Gramedia Jakarta.
Hendaryono, D. P. S dan A, Wijayani, 1994. Teknik Kultur Jaringan. Kanisius, Yogyakarta.

Idiyah, S, 1994. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.

Kartasapoetra, A.G 1989. Kerusakan tanah pertanian dan usahan untuk mrehabilitasinya . PT Bina Aksara, Jakarta.

Klapwijk, D. 1987. Effect of season on g rowth and development of schysanthemum in the vegetative phase. Acta Hort. 197 : 63-69

Khattak, A.M. dan S. Pearson. 1997. The effect of light quality and temperature on the hrowth and development of chysanthemum cvs. Bright Golden Anned and Snowdon. Acta Hort. 435: 113-131

Marwoto, B., T, Sutater dan J. DE, Jong, 1999. Varietas Baru Tipe Spray. J. Hort, 9(3):275-281.

Masswinkel, R dan Y. Suloyo. 2004. Chysanthemum physiologue in training on chysanthemum cultivation I. Balai Penelitian Tanaman Hias. 24 okotber 2004

Marwoto, B,K. 2000. Seleksi klon-klon harapan krisan sebagai bahan tanaman induk pada sistem budidaya lahan terbuka. Laporan penelitian tahunan Balai Tanaman Hias. Pp.35-41

Iknas, 2008.  Teknik prosedur aklimitasi krisan. Laporan penelitian tahunan Balai tanaman Hias.

Moe, R. 1988. Effect of stock plant environment on lateral branching and rooting . Acta Hort. 226 : 431-440.

Prima Tani Sleman, 2007. Budidaya Tanaman Krisan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta. 22 hal.
Sarief. S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit CV pustaka Buana. Bandung.



PUSAT SARANA BIOTEKNOLOGI AGRO

menyediakan PUPUK TETES BUNGA untuk keperluan penelitian, laboratorium, mandiri, perusahaan .. hub 081805185805 / 0341-343111 atau kunjungi kami di https://www TOKOPEDIA.com/indobiotech temukan juga berbagai kebutuhan anda lainnya seputar bioteknologi agro

Isi masih berantakan harap maklum

Entri Populer