gravatar

MATERI KESUBURAN TANAH 1


I.       PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Indonesia merupakan suatu negara agraria yang terletak di daerah tropis. Ekosistem yang belum terjamah oleh peran manusia, mampu menyediakan unsur hara bagi tumbuhan yang hidup di dalamnya. Keadaan di alam bebas dari pengaruh manusia perkembangan tanaman seimbang dengan pelapukan batu-batuan dan pelapukan sisa-sisa organisme, akan tetapi akibat usaha pertanian yang dilakukan manusia sekarang ini menyebabkan proses pencucian hara yang menguntungkan lebih efektif. Hal demikian itu menyebabkan usaha pertanian yang dilakukan memerlukan masukan dari luar, agar terpenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga dapat menghasilkan output secara maksimal. Pemberian masukan dari luar ini dalam pengertian sehari-hari dikenal dengan pemupukan. Secara dari luar pemupukan sebenarnya juga termasuk penambahan bahan-bahan lain yang dapat memperbaiki sifat-sfat tanah misalnya pemberian pesin pada tanah liat, penambahan tanah mineral pada tanah organik, pengapuran dan ameliorasi.
Kegiatan pemupukan dalam usaha pertanian perlu mengetahui keadaan dasar pupuk tersebut, antara lain, sifat fisiknya, sifat kimianya, dan efeknya bagi tanaman yang dibudidayakan. Ada beberapa dasar-dasar pemupukan yang perlu diketahui sebelum pemupukan adalah :
1.     Tanaman yang akan dipupuk.
2.     Jenis tanah yang akan dipupuk.
3.     Jenis pupuk yang digunakan.
4.     Dosis (jumlah) pupuk yang diberikan.
5.     Waktu pemupukan.
6.     Cara pemupukan.
Pupuk dapat dibedakan menjadi pupuk alam dan pupuk buatan. Pupuk alam adalah pupuk yang langsung didapat dari alam misalnya fosfat alam, pupuk organik (pupuk kandang, kompos, pupuk hijau), sedangkan pupuk buatan adalah pupuk yang dibuat di pabrik dengan jenis dan kadar unsur haranya sengaja ditambahkan dalam pupuk tersebut dalam jumlah tertentu. Pupuk buatan yang secara umum digunakan dalam usaha pertanian antara lain : Urea, ZK, SP-36, KCl, Za, dan TSp.
Aplikasi di lapangan kadang memerlukan peranan pupuk tidak hanya satu jenis, untuk itu perlu pencampuran beberapa jenis pupuk. Pencampuran pupuk menjadi pupuk campuran memerlukan berbagai pertimbangan agar terbentuk pupuk yang baik dan tahan lama. Pencampuran pupuk sangat berkaitan dengan sifat kimia dan sifat fisik. Sifat kimia berkaitan dosis yang akan diperoleh dan sifat fisik berkaitan dengan keadaan atau kondisi pupuk terutama mengenai warna, ketahanan pupuk, ukuran pupuk, dan bentuk pupuk. Pencampuran satu pupuk dengan jenis pupuk yang lain, akan saling mempengaruhi keadaan keduanya.
Cara pemberian pupuk untuk tanaman  ada beberapa cara, antara lain :
1.      Aplikasi lewat daun dengan disemprot.
2.      Aplikasi lewat tanah dengan dibenamkan atau ditaburkan.
Cara pemberian pupuk tergantung jenis pupuk yang diberikan dan kondisi tanah yang akan dipupuk. Cara aplikasi pupuk sangat berhubungan dengan waktu pemberian. Waktu pemberian pupuk di areal pertanaman berkaitan dengan jenis pupuk, sebagai contoh, pemberian urea di areal pertanaman jangan pada waktu hujan lebat atau siang hari yang panas. Hal ini berkaitan dengan proses kehilangan hara dari pupuk, pada waktu hujan akan mudah tercuci dan bila sang hari akan mudah hilang oleh penguapan.
Nilai suatu pupuk ditentukan oleh sifatnya yang meliputi (Harbowigeno, 1987) :
1.      Kadar unsur hara : banyaknya unsur hara yang dikandung oleh suatu pupuk merupakan faktor utama untuk menilai pupuk tersebut, karena jumlah unsure hara menentukan kemampuannya untuk menaikkan kadar unsure hara dalam tanah. Semakin tinggi kadar unsure haranya semakin baik. Kadar unsure hara dalam pupuk N, P, K dinyatakan dalam % N, P2O5 dan K2O
2.      Higroskopisitas adalah mudah tidaknya pupuk menyerap uap air yang ada di udara. Pupuk yang higroskopis kurang baik karena mudah menjadi basah atau mencair bila tidak tertutup. Bila kelembapan udara menurun, pupuk dapat menjadi kering kembali tetapi terjadi bongkah-bongkah yang keras. Pada suhu udara rata-rata berbagai jenis pupuk mulai menarik uap air pada kelembapan nisbi udara lebih dari 50 %
3.      Kelarutan : menunjukkan mudah tidaknya pupuk larut dalam air dan mudah tidaknya unsure yang terdapat dalam pupuk diambil oleh tanaman. Umumnya pupuk N dan K mudah sekali larut dalam air, sedangkan pupuk P dapat dibedakan menjadi (1) mudah larut dalam air (superpospat), (2) larut dalam asam sitrat atau ammonium sitrat (FMP – Fused Magnesium Phosphate) dan (3) larut dalam asam keras (fosfat alam)
4.      Kemasaman : pupuk dapat bereaksi fisiologis masam, netral, alkalis. Pupuk yang bersifat masam dapat menurunkan pH tanah berarti menyebabkan tanah menjadi lebih masam, sedangkan pupuk yang bersifat alkalis dapat menaikkan pH tanah. Sifat kemasaman pupuk dinyatakan dengan nilai Ekuivalen kemasaman (Equivalent Acidity)
5.      Bekerjanya : Yang dimaksud dengan bekerjanya pupuk adalah waktu yang diperlukan hingga pupuk tersebut dapat diserap tanaman dan memperlihatkan pengaruhnya. Ada yang bekerja cepat, sedang atau lambat. Bekerjanya pupuk sangat mempengaruhi waktu dan cara penggunaan pupuk.
6.      Indeks garam (Salt Index) : Pemupukan meningkatkan konsentrasi garam dalam larutan tanah. Salt Index suatu pupuk diukur berdasarkan kenaikan tekanan osmotic dalam larutan tanah.

B.     Tujuan Umum
1.      Mengetahui berbagai sifat fisik pupuk buatan, meliputi : higroskopis, kelarutan dan menetapkan berbagai ciri pupuk buatan mengenai : nama, warna, fase, bentuk, cara penggunaan, dan dosis.
2.      Mengetahui sifat kimia berbagai macam pupuk buatan.
3.      Membuat pupuk campuran yang terdiri dari pupuk buatan atau abu.









II.    SIFAT FISIK PUPUK


A.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui beberapa macam sifat fisik pupuk
2.      Untuk mengetahui derajat higroskopisitas pupuk
3.      Untuk mengetahui derajat kelarutan pupuk

B.     Dasar Teori
Pupuk adalah setiap bahan yang diberikan ke dalam tanah atau disemprotkan pada tanaman dengan maksud menambah unsure hara yang diperlukan oleh tanaman. Pengertian pupuk yang lain adalah suatu bahan yang diberikan kedalam tanah yang dapat merubah susunan fisik, kimia dan hayati dari tanah sehingga sesuai dengan tuntutan tanaman.
Sifat fisik pupuk erat kaitannya dengan keadaan atau kondisi pupuk terutama mengenai warna, ketahanan pupuk, ukuran pupuk, dan bentuk pupuk. Sifat fisik pupuk antara lain :
1.      Higroskopisitas adalah mudah tidaknya pupuk menyerap uap air yang ada di udara. Pupuk yang higroskopis kurang baik karena mudah menjadi basah atau mencair bila tidak tertutup. Bila kelembapan udara menurun, pupuk dapat menjadi kering kembali tetapi terjadi bongkah-bongkah yang keras. Pada suhu udara rata-rata berbagai jenis pupuk mulai menarik uap air pada kelembapan nisbi udara lebih dari 50 %. Di Indonesia kelembapan nisbi udara rata-rata sekitar 80 %, sehingga pupuk yang mudah menarik air (higroskopis) seperti urea akan menjadi rusak kalau tidak disimpan dengan baik. Untuk mengurangi higroskopisitas tersebut biasanya pupuk dibuat menjadi butir-butiran sehingga luas permukaan yang menarik air menjadi berkurang. Kadang-kadang butiran tersebut juga diberi lapisan penahan air, yang hanya dapat menyerap air jika kadar air cukup banyak.
2.      Kelarutan, menunjukkan mudah tidaknya pupuk larut dalam air dan mudah tidaknya unsur yang terdapat dalam pupuk diambil oleh tanaman. Umumnya pupuk N dan K mudah sekali larut dalam air, sedangkan pupuk P dapat dibedakan menjadi (1) mudah larut dalam air (superpospat), (2) larut dalam asam sitrat atau ammonium sitrat (FMP – Fused Magnesium Phosphate) dan (3) larut dalam asam keras (fosfat alam)
3.      Daya Kristalisasi : Daya kristalisasi kelembapan dimana pupuk tersebut disimpan. Apabila suhu dan kelembapan rendah maka daya pengkristalan pupuk akan tinggi. Daya pengkristalan ini bisa dikurangi dengan pemakaian bahan-bahan yang disebut conditioner. Conditioner ini diberikan pada saat pembentukan pupuk
4.      Segregasi : Segregasi merupakan kemampuan pupuk untuk tetap berada dalam bentuk butiran yang terpisah, hal ini diperlukan karena jika segregasi suatu pupuk tinggi maka pupuk tersebut akan mengumpul sehingga akan menyulitkan untuk aplikasi pupuk tersebut.

C.    Alat dan Bahan
Alat     : a.  Kertas                                                        
b.     Kertas buram
c.      Petridis
d.     Sendok makan
e.      Beker glass
f.      Alat tulis
Bahan : a.  Berbagai jenis pupuk
b.      Aquades

D.    Cara Kerja
1.      Sifat Fisik Pupuk
a.       Pupuk diamati
b.      Sifat fisik pupuk (nama, warna, fase, bentuk, penggunaan dan dosis) ditulis
2.      Derajat higroskopisitas
a.       Petridis dilapisis dengan kertas buram
b.      Pupuk diambil ½ sendok makan
c.       Pupuk diratakan dan diamati dalam 3 hari
d.      Derajat higroskopisitas pupuk diamati
                                      i.      Sangat higroskpis
                                    ii.      Higroskopis
                                  iii.      Kurang higroskopis
                                  iv.      Tidak higroskopis
3.      Derajat kelarutan
a.       Aquades dimasuukan kedalam beker glass lalu pupuk ditambahkan dengan perbandingan pupuk : aquades = 1 : 4
b.      Larutan pupuk diamati setelah 1,5 jam
c.       Derajat kelarutan pupuk ditentukan :
                                      i.      Sangat larut
                                    ii.      Larut
                                  iii.      Kurang larut
                                  iv.      Tidak larut

E.     Hasil dan Pembahasan
Hasil :
Derajat Higroskopisitas
 Jenis Pupuk
Derajat Higroskopisitas 
Sangat higroskopis
Higroskopis
Kurang higroskopis
Tidak higroskopis
 Sp – 36
-
-
-
 Ö
 NPK
Ö
-
-
 Urea
Ö
-
-
 KCl
-
Ö
-
 ZA
-
-
Ö
 Buto Ijo
 -
 -
 -
 Ö

Derajat Kelarutan :
Jenis Pupuk 
Derajat Kelarutan 
Sangat Larut
Larut
Kurang Larut
Tidak larut 
Sp – 36
-
-
-
Ö 
 NPK
Ö
-
-
 Urea
Ö
-
-
 KCl
-
Ö
-

 ZA
-
Ö
-
-
 Buto Ijo
 -
 Ö
 -

No
Nama
Warna
Fase
Bentuk
Penggunaan
Dosis
1
Vitagrow
-
Padat
Butiran
Disemprot menjelang keluarnya bunga
1,5 – 2,0 gram/liter
2
Pupuk organic cair “Suburi”
Hitam
Cair
Cairan
Disemprot
Diencerkan dengan perbandingan 1:1000, dicampur dengan insektisida 2 cc/1 liter air
3
Pupuk pelengkan cair “Alami”
Biru
Cair
Cairan
Disemprot
5 cc/liter air atau 4,25 liter/ha
4
Effective Microorganism (EM4)
Coklat
Cair
Cairan
Disiram/disemprot kedalam tanah, perakaran tanaman dan daun tanaman
5 – 10 gram/ liter air
5
Greener 2001
Hijau
Cair
Cairan
Disemprotkan
Pada 20-40 hari 2 cc/1 liter dan setelah 40-panen 3 cc/1 liter air
6
Gandasil B
Merah muda
Padat
Kristal
Dicampur dengan berbagai jenis pestisida kecuali yang bersifat alkalis
10 – 30 gram/liter setiap 8 – 10 hari
7
Gandasil D
Hijau
Padat
Kristal
Dicampur dengan berbagai jenis pestisida kecuali yang bersifat alkalis
10 – 30 gram/ 10 liter air
8
Sampurna B
Merah
Padat
Kristal
Dicampur dengan berbagai jenis pestisida kecuali yang bersifat alkalis
10 – 30 gram / 10 liter air
9
Sampurna D
Hijau
Padat
Kristal
Dicampur dengan berbagai jenis pestisida kecuali yang bersifat alkalis
10 – 30 gram/10 lier air setiap 8 – 10 hari
10
NPK ‘Pak Tani’
Merah muda
Padat
Butiran
1.      Dicampur dengan air, disemprotkan
2.      Langsung diberikan pada tanah pada awal tanam
Bawang merah 250 kg/ha,bawang putih 200 kg/ha, lombok 300 kg/ha



PEMBAHASAN :
ZA (Amonium Sulfat=Zwavelzure Amoniak) . (NH4)2SO4 merupakan pupuk yang sudah lama dikenal dan digunakan di Indonesia untuk berbagai tanaman.  Pada umumnya ZA diperdagangkan dalam bentuk kristal berwarna putih, abu-abu, biru keabu-abuan dan kuning.  Warna tersebut tergantung dari proses pembuatannya.  ZA dibuat dengan nitrogen dari udara berwarna putih.  ZA merupakan pupuk yang tidak Hygroskopis, ZA baru akan menarik air dari udara pada kelembapan nisbi sekitar 80 % pada suhu 30 oC, oleh karena itu jika ZA dipakai secara terus- menerus, maka pupuk ini dapat mengasamkan tanah, sehingga ZA mempunyai reaksi fisiologis masam dengan ekuivalen kemasaman 110.  ZA merupakan pupuk yang mudah larut dalam air dan bekerja dengan cepat.
Urea merupakan dari persenyawaan dari kimia organic CO(NH2)2. urea mengandung kadar N 45 % - 46 %, termasuk golontgan pupuk yang sangat higroskopis, menarik air dari udara pada kelembapan relatif 73 % sehingga pada urea sering ditambahkan selaput (coated) untuk mengurangi sifat higroskopisitasnya. Pupuk ini berbentuk kristal berwarna putih atau berbentuk butir-butir bulat dengan garis tengah  1 mm. Pemberian urea dalam tanah dengan bantuan enzim urease akan segera dihidrolisis menjadi ammonia dan karbondioksida dengan rumus kimia :
ammonia dan CO2 keduanya berbentuk gas dan mudah hilang dar I tanah. Urea merupakan pupuk yang sangat mudah bereaksi dengan air sehingga derajat kelarutannya sangat tinggi (sangat larut), hal ini menguntungkan karena ammonia mudah bereaksi dengan air dan membentuk hidroksi ammonium sehingga umtuk sementara tidak akan hilang dari tanah. Nitrogen dalam tanah mudah hilang dan kurang efektif, karena :
1.      Mudah diserap oleh tumbuhan lain yang tidak diinginkan
2.      Mudah hanyut dari tanah akibat erosi dan pencucian
3.      Mudah terbakar oleh sinar matahari, sedangkan akar belum sempat menghisapnya
4.      Mudah hancur karena digunakan oleh mikroorganisme dalam tanah.
Dengan pertimbangan tersebut, maka pemupukan dengan urea akan lebih efektif apabila dilakukan melalui daun yaitu dengan cara menyemprotkan larutan urea pada daun. Secara umum urea mempunyai sifat :
1.      Mudah larut
2.      Tidak dapat langsung diambil oleh tanaman, tetapi melalui proses dahulu yang dilakukan oleh bakteri di dalam tanah sehingga bekerjanya lambat
3.      Kuat menarik air, tetapi gumpalannya mudah dipecahkan dengan tangan
4.      Tidak mengandung zat-zat yang tidak berguna
5.      Kadar N tinggi, jadi menaburkannya harus rata betul.
Pupuk KCl terdapat 2 macam, yaitu KCl 80 (mengandung 52 % - 53 5 K2O) dan KCl 90 (mengandung 55 % - 58 % K2O). tingginya kadar klorida menyebabkan pemakaiannya menjadi demikian terbatas, sehingga pupuk KCl sering tidak dipergunakan bagi tanaman yang peka terhadap Cl. KCl mempunyai sifat agak higroskopis dan larut dalam air dan mempunyai reaksi fisiologis asam lemah. Pupuk KCl sangat baik digunakan pada tanaman karet dan tebu.
Sp- 36 merupakan pupuk yang berupa butir-butir kecil berwarna abu-abu. Pupuk ini tidak larut dalam air dan tidak higroskopis. Pupuk ini bekerjanya perlahan-lahan sehingga dianjurkan untuk melakukan pemupukan sebelum tanam.
Buto Ijo merupakan pupuk yang berbentuk butiran, berwarna hijau keabu-abuan. Pupuk ini tidak higroskopis dan sukar larut dalam air.
Pupuk NPK disebut sebagai “Pupuk Majemuk Lengkap” atau Complete Fertilizer. Pupuk ini merupakan pupuk campuran (majemuk) dari pupuk N, P, K. NPK merupakan pupuk padat berbentuk butiran berwarna merah muda (pink). NPK merupakan pupuk compound yang mengandi\ung unsur hara makro yang sangat berguna bagi tanaman, khususnya untuk tanaman bawang, lombok, semangka, tomat, kentang, kubis, kacang-kacangan, padi serta timun dengan berbagai waktu aplikasi. Pupuk NPK bersifat sangat higroskopis dan mudah larut dalam air.
Vitagrow merupakan pupuk padat berbentuk butiran. Pupuk ini digunakan dengan cara dilarutkan dengan air dan disemprotkan pada tanaman menjelang keluarnya bunga dengan dosis 1,5 – 2,0 gram/liter. Pupuk ini berguna untuk merangsang keluarnya bunga dan memperbanyak jumlah daun.
Pupuk Organic Cair “Suburi” merupakan pupuk cair berwarna hitam yang digunakan dengan cara disemprotkan pada tanaman. Pupuk ini dibuat dengan cara diencerkan dengan perbandingan 1:1000. penggunaan pupuk ini juga dapat dicampur dengan insektisida sebanyak 2 cc/1 liter air. Pupuk ini berguna untuk meningkatkan produksi daun, bunga dan buah.
Pupuk Pelengkap Cair ‘Alami’ merupakan pupuk berbentuk cairan yang berwarna  biru. Pupuk ini digunakan dengan cara disemprotkan pada tanaman dengan dosis 5 cc/liter air atau 4,24 liter/ha. Pupuk ini berguna untuk :
1.      Mempercepat pertumbuhan tanaman
2.      Menyuburkan pertumbuhan tanaman, terutama pada daun dan membuat pucuk daun menjadi segar serta tanaman menjadai lebih sehat hijau royo-royo
3.      Mempercepat penunasan dan pembuahan dan mencegah dari kelayuan dan kerontokan
4.      Meningkatkan hasil tanaman yang berlipat ganda dan membuat tanaman lebih cepat berbunga dan berbuah segar yang dapat dipanen.
Effective Microorganism (EM4) merupakan pupuk berbentuk cairan yang berwarna coklat. Pupuk ini digunakan dengan cara disiram atau disemprotkan ke dalam tanah, perakaran tanaman, dan daun tanaman dengan dosis 5 – 10 ml/ 1 liter air. Pupuk ini bermanfaat untuk : memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah; meningkatkan produksi tanaman dan menjaga kestabilan produksi; memfermentasi dan mendekomposisi bahan organic tanah dengan cepat; menyediakan unsure hara yang dibutuhkan tanaman serta menyehatkan tanaman.
Greener 2001 merupakan pupuk berwarna hijau yang berbentuk cairan. Pupuk ini digunakan pada saat tanaman berumur 20 – 40 hari dengan dosis 2 cc/1 liter air, dan pada saat tanaman berumur 40 hari sampai dengan panen dengan dosis 3 cc/1 liter air. Pupuk ini diberikan dengan cara disemprotkan pada tanaman. Greener 2001 berguna untuk meningkatkan kualitas dan mutu hasil tanaman.
Gandasil B merupakan pupuk padat berbentuk kristal berwarna merah muda (Pink). Pupuk ini digunakan dengan cara dicampur dengan berbagai jenis pestisida kecuali yang bersifat alkalis. Pupuk ini digunakan dengan cara disemprotkan pada tanaman setiap 8 – 10 hari dengan dosis 10 – 30 gram/liter.
Gandasil D merupakan pupuk daun lengkap (semprna), berbentuk kristal. Pupuk ini dianjrkan sebagai konsentrasi normal 10 – 30 gram yang dilarutkan kedalam 10 liter air. Pupuk ini digunakan dengan cara dicampur dengan berbagai jenis pestisida kecuali yang bersifat alkalis.
Sampurna B dan Sampurna D merupakan pupuk berbentuk kristal padat berwarna merah. Kedua pupuk ini digunakan dengan cara dicampur dengan berbagai jenis pestisida kecuali yang bersifat alkalis dengan dosis 10 – 30 gram/10 liter air setiap 8 – 10 hari.
F.     Kesimpulan
1.      Sifat fisik pupuk dapat diamati melalui berbagai bentuk, warna, fase, dosis serta kegunaan yang tercantum dalam kemasan dari tiap-tiap pupuk.
2.      Higroskopisitas merupakan kemampuan pupuk untuk dapat menyerap air dari udara.  Derajat higroskopisitas pupuk terdiri dari :
a.       Sangat higroskopis : Urea dan NPK
b.      Hygroskopis : KCl
c.       Kurang higroskopis : ZA
d.      Tidak higroskopis : Sp- 36 dan Buto Ijo  
3.      Kelarutan merupakan derajat yang menunjukkan mudah tidaknya pupuk larut dalam air dan menunjukkan mudah tidaknya unsure yang ada dalam pupuk diambil dan diserap oleh tanaman.  Derajat kelarutan pupuk terdiri dari :
a.       Sangat larut : Urea dan NPK
b.      Larut : ZA dan KCl
c.       Kurang larut : Buto Ijo
d.      Tidak larut : Sp -36

III. SIFAT KIMIA PUPUK
A.    Tujuan
1.   Mengetahui sifat kimia pada beberapa contoh pupuk.
2.   Mengetahui pH di beberapa macam pupuk seperti Sp-36, NPK, KCl, ZA, Buto Ijo.

B.     Dasar Teori
Tanaman tidak ubahnya seperti manusia yaitu jika tidak mendapat cukup makanan akan menjadi lapar dan pertumbuhan akan menjadi kurang baik. Demikian halnya dengan tanaman. Tetapi tanaman tidak bisa bergerak seperti manusia atau mengais seperti ayam. Kita harus menyediakan kondisi yang memenuhi persyaratan agar tanaman itu tumbuh dengan baik. Untuk mengetahui persyaratan yang dimaksud, kita harus mengetahui apa yang dibutuhkan tanaman dan untuk apa kegunaan unsur hara yang dibutukan itu. (Suriatha, 1987)
(Menurut Sutejo dan Kartasoetra, 1990) Ilmu memupuk adalah ilmu yang bertujan menyelidiki tentang zat-zat apakah yang perlu diberikan pada tanah sehubungan dengan kekurangan zat-zat tersebut yang terkandung di dalam tanah yang perlu guna pertumbuhan dan perkembangan tanaman dalam rangka produksinya dapat mencapai hasil yang tinggi. Pemupukan itu sendiri bertujuan untuk memelihara dan memperbaiki kesuburan tanah dengan memberikan unsur atau zat hara ke dalam tanah yang langsung atautidak langsung dapat menyumbangkan bahan makanan pada tanaman. Pemupukan juga akan memprebaiki pH tanah dan memperbaiki lingkungan tanah sebagai tempat tumbuh tanaman.(Suriatno, 1987).
Sedangkan yang dimaksud dengan pupuk adalah setiap bahan yang diberikan ke dalam tanah atau disemprotkan pada tanaman dengan maksud menambah unsur hara yang diperlukan tanaman.
Pupuk buatan pada umumnya berwarna dan partikelnya terdiri dari berbagai macam ukuran dan bentuk ada yang berupa biji-bijian, butiran, kristal dan cairan. Penggolongan pupuk buatan dapat dilakukan berdasarkan kandungan unsur hara, kelarutan dan berdasarkan kemasaman. Pupuk buatan mempunyai beberapa kelebihan, yaitu :
1.      Dapat diberikan dengan dosis yang dibutuhkan tanaman.
2.      Dapat diberikan pada saat yang tepat.
3.      Mudah tersedia.
4.      Pemakaian dan pengangkutannya lebih mudah dan murah.

C.    Alat dan Bahan
Alat     :  a.  Tabung reaksi
b.      Alat penumbuk
c.       Kertas pH dan kotak pH
Bahan  :  a.  Berbagai jenis pupuk
b.  Aquades

D.    Prosedur kerja
1.      Sifat kimia pupuk diamati dan dicatat.
2.      pH diamati dengan :
·      Pupuk dan aquades dicampur dengan ratio 1 : 2,5.
·      Pupuk yang keras ditumbuk (SP-36, NPK, Buto Ijo).
·      Pupuk tersebut dikocok ± 0,5 jam agar homogen.
·      Kemudian diukur dengan kertas pH.

E.     Hasil dan Pembahasan
Hasil :
Sifat kimia pupuk
No.
Nama pupuk
Kandungan unsur hara
1.
Pupuk pelengkap cair
“alami”
·       N     = 8,8%                ·  Cu   = 85 ppm      
·       P2O5= 1%                   ·  Zn   = 30 ppm
·       K2O = 2,17%              ·  Mo  = 1,1 ppm
·       Mg  = 0,01%               ·  Fe    = 160 ppm
·       Mn  = 85 ppm             ·  B      = 43 ppm
2.
Pupuk cair organik
“suburi liquid”
Senyawa organik murni yang kompleks hasil olahan proses bioternologi, mengandung hormon pertumbuhan.
3.
Efective microorganism
(EM4)
Dari hasil seleksi alami mikroorganisme fermentasi dan sintetik di dalam tanah bakteri fermentasi dari genus lactobacilus, jamur fermentasi, actynomycetes, bakteri fotosintetik dan ragi
4.
Vitagrow
·         Fe  = 3%                    ·  Zn, B =25%
·         Mn = 3%                    · Mo, Mg = 30%
·         Plus vitamin
5.
Greener 2001
·         N total = 120%           · Fe = 382 mg/kg   
·         N         = 11,5%          · Mn = 193 mg/kg
·         P2O5    = 4,9%            · B    = 100mg/kg
·         K2O    = 6,6%              · Zn = 69 mg/kg
·         Ca       = 0,4%              · Ni = 56 mg/kg
·         MgO   = 750 mg/kg     · Mo = 3,5mg/kg
6.
Grandasil B
·         N  = 6%                    ·  P = 20% P2O5
·         K  = 30% K2O          ·  Mg = 3% MgSO4
Dilengkapi dengan Mn, B, Cu, CO, Zn dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman, ancurino, lactoflavine dan nicotinic acid.
7.
Grandasil D
·         N total = 20%           · P = 15% P2O5
·         K = 15% K2O           · Mg = 3% MgSO4
Dilengkapi dengan Mn, B, Cu, CO, Zn dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman, ancurino, lactoflavine dan nicotinic acid.
8.
Sampurna B
·         N = 16 %                · P = 19 %
·         K = 19 %                · Mg = 1 %
9.
Sampurna D
·         N = 28 %                · P = 30 %
·         K = 11 %                · Mg = 5 %
10.
NPA “ Pak Tani”
·         N = 16%                · P = 8 %
·         K = 16 %                · Mg = 13 %

pH
Jenis pupuk
PH
SP-36
2,5
NPK
5
Urea
7
KCl
6,5
ZA
4
Buto Ijo
8,5
Pembahasan :
Berdasarkan susunan kimiawi dan perubahan-perubahannya di dalam tanah pupuk dibagi atas :
a)     Pupuk anorganik.
b)     Pupuk organik.
Pupuk organik merupakan hasil-hasil akhir dari perubahan atau penguraian bagian-bagian atau sisa-sisa tanaman dan binatang, misalnya pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, dsb. Pupuk anorganik merupakan hasil industri atau pupuk hasil dari pabrik-pabrik pembuat pupuk. Pupuk mengandung unsur-unsur hara atau zat-zat makanan yang diperlukan tanaman. Pupuk-pupuk tersebut umumnya mengandung hara yang tinggi. Pupuk buatan dapat dibagi lagi kedalam pupuk tunggal dan pupuk majemuk.
Hasil pengamatan dan pencatatan dalam praktikum, pupuk-pupuk tersebut termasuk dalam pupuk anorganik dan merupakan pupuk majemuk. Tiap-tiap pupuk mempunyai unsur hara yang lengkap dan tinggi.
Pupuk Gandasil D merupakan pupuk daun lengkap dan sempurna berbentuk kristal, buatan Jerman. Unsur hara yang terkandung adalah N=20 %, P=15% P2O5, K=15 % K2O dan Mg = 3 % MgSO4, yang dilengkapi dengan unsur mikro, vitamin untuk pertumbuhan tanaman. Pupuk Gandasil D merupakan pupuk anorganik makro dan mikro berbentuk kristal dan berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif serta mempunyai kepekatan larutan antara 1-3 g/liter air. Sedangkan pada Gandasil B berfungsi untuk merangsang pertumbuhan generatifnya. Hal ini dapat dilihat dari komposisi yang terkandung pada Gandasil B yaitu N = 6 %, K = 3 %, P = 20 %, dan Mg = 3 %. Pada Gandasil D unsur N lebih banyak , dimana fungsi N yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan, meningktkan kualitas tanaman penghasil daun-daunan, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman serta dapat menyehatkan pertumbuhan daun, daun tanaman lebar dengan warna yang lebih hijau. Jika kekurangan unsur ini maka akan menyebabkan klorosis (pada daun muda berwarna kuning). Pupuk ini sebaiknya diberikan pada awal pertumbuhan tanaman, jangan ketika mulai berbunga karena hal ini akan menghambat proses pembungaan pada tanaman 
Pada Gandasil B, unsur P dan K mempunyai dosis yang tinggi. Fungsi P dan K itu sendiri diantaranya adalah untuk mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji atau gabah, meningkatkan kualitas biji atau buah dan pembentukkan protein serta karbohidrat. Kepekatan dari pupuk ini adalah 2-3 gram/liter air. Pupuk ini sebaiknya diberikan ketika tanaman akan berbunga.
Pupuk pelengkap cair ‘alami’, pupuk cair organik ‘suburi liquid’, efective microorganism (EM4) serta Greener 2001 merupakan pupuk berbentuk cair ang penggunaannya dilakukan dengan jalan disemprotkan pada daun tanaman. Pada pupuk Greener 2001 merupakan pupuk anorganik makro dan mikro yang berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif. Hal ini dapat dilihat dari kondisi komposisinya.
Besi (Fe) dan mangan (Mn) memegang peranan dalam sistem enzim dan diperlukan untuk sintesis klorofil. Aktivitas kedua unsur tersebut selalu berinteraksi, oleh karena itu besi tidak aktif apabila terdapat mangan yang berlebihan. Boron memegang peranan dalam pengisapan unsur kalsium dan perkembangan bagian-bagian tanaman yang tumbuh aktif. Sangat dibutuhkan pada bagian-bagian yang tumbuh, meskipun hanya sedikit. Boron sangat penting dalam proses fiksasi Nitrogen oleh bakteri di dalam nodula tanaman legiminosa. Magnesium juga berperan dalam sintesis klorofil. Gejala pertama yang terlihat pada tanaman yang kekurangan Mg yaitu daun tua mengalami klorosis dan tampak ada bercak-bercak coklat. Daun yang semula hijau segar menjadi kekuningan dan tampak pucat. Pupuk ini dapat diberikan untuk tanaman sayuran, buah dan biji-bijian.
Pupuk pelengkap cair alami, pupuk organik suburi liquid dan EM4 merupakan pupuk organik buatan. Pupuk organik buatan adalah pupuk organik yang sudah melalui proses pabrikasi dan teknologi tinggi. Pupuk yang dihasilkan tersebut bersifat organik dengan bentuk fisik dan cara kerjanya seperti pupuk anorganik atau pupuk kimia. Banyak kelebihan dari pupuk ini diantaranya adalah kadar haranya tepat untuk kebutuhan tanaman, penggunaannya lebih efektif dan efisien  sepreti halnya pupuk kimia, serta kemampuannya setara dengan pupuk organik murni walaupun kuantitasnya sangat sedikit.
Pupuk pelengkap cair alami atau disebut pupuk organik semprot ini, penggunaannya pada tanaman menjelang keluarnya bunga. Formula organik pupuk ini diproses untuk merangsang pertumbuhan dan kesuburan tanaman. Komposisinya  antara lain N = 8,8 %, P­2O5 = 0,1 %, K2O = 2,17 % juga mengandung unsur mikro dan makro.
Pupuk cair organik suburi liquid penggunaannya yaitu dengan cara diencerkan dengan perbandingan 1 : 1000, dicampur dengan insektisida 2 cc/ 1 liter air. Pupuk ini mengandung unsur hara cukup lengkap.
EM4 merupakan pupuk organik buatan yang berbentuk cair fdan berwarna coklat. Berasal dari ekstrak fermentasi Phyto dan biomassa organik dalam konsentrasi tinggi. Pupuk ini kaya akan karbohidrat, asam amino, hara makro dan hara mikro, vitamin dalam bentuk organik maupun anorganik. Cara dan dosis pemakaiannya disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan dipupuk . untuk tanaman pangan dan horikultura di pesemaian, pupuk disiramkan dengan dosis 1 liter/m2 dan konsentrasinya 4 ml/liter air. Untuk tanaman di lahan, cara pemberiannya disiramkan sebanyak 250-300 ml larutan pertanaman dengan konsentrasi 5-10 ml/liter air.
NPK Pak Tani merupakan pupuk majemuk lengkap yang memberikan unsur N, P, K bagi tanaman. Jenis pupuk NPK cukup banyak di pasaran dengan beragam kadar unsur yang dikandungnya. Oleh karena unsur yang dikandug lebih dari satu juta maka perhitungannya dapat mengikuti cara :
Pupuk ini berbentuk butiran dengan perbandingan unsur hara 16 : 16 : 8. Cara dan dosis pemberiannya disesuaian dengan jenis tanaman, misalnya untuk jeruk dosisnya 250-300 kg/ha dan dan diberikan sekaligus menjelang musim hujan, apel dosisnya 240-300 kg/ha diberikan pada musim hujan. Untuk bawang merah dosisnya 200-250 kg/ha diberikan saat tanam dua kali, kacang panjang 100-150 kg/ha diberikan pada saat tanam. Untuk tanaman perkebunan diberikan dengan dosis antara 250-300 kg/ha pada awal musim hujan. Pupuk sampurna B dan Sampurna D juga merupakan pupuk NPK.
Secara normal, pupuk tidak dapat mengakibatkan perubahan yang nyata pada pH tanah. Namun demikian, ada beberapa kasus dimana pupuk Nitrogen kurang baik dalam meningkatkan keasaman tanah. Dalam beberapa kasus pemilihan pupuk itu sendiri dan pengunaannya dapat membantu perubahan pH tanah yang dikehendaki. Secara ringkas pengaruh pupuk terhadap pH tanah adalah sebagai berikut :
1.      Pupuk kalium pada umumnya, dalam bentuk seperti murute dan sulfat kalium karbonat tidak mempunyai pengaruh tetap terhadap keasaman tanah.
2.      Superfosfat secara umum, juga tidak mempunyai pengaruh tetap pada reaksi tanah. ”Slag” dasar tepung tulang dan batuan fosfat mempunyai kecenderungan menetralkan keasaman tanah.
3.      Pupuk yang mengandung Nitrogen dalam bentuk amonia, atau dalam bentuk-bentuk lainnya merupakan subyek nitrifikasi (dapat berubah menjadi nitrat), akan mengakibatkan kemasaman kecuali jika bahan kapur terdapat di dalam pupuk yang menetralkan asam yang dibentuk.
4.      Pupuk Nitrogen dimana Nitrogen dalam bentuk nitrat dan dikombinasikan dengan basa seperti natrium atau kalsium akan berakibat pada penggunaannya oleh tanaman, pada penurunan keasaman tanah, contoh pupuk ini adalah pupuk nitrat soda dan kalsium nitrat.
Secara umum, penggunaan secara sistematik pupuk dalam jumlah sedang sampai jumlah besar paad waktu yang tepat dalam pergiliran tanaman tidak akan kelihatan mempengaruhi kemasaman tanah, dimana dipertimbangkan untuk meningkatkan kemasaman tanah (sampai pH yang lebih rendah), Amonium sulfat dapat digunakan sebagai sebaran Nitrogen (Foth, 1988).

F.     Kesimpulan
1.      Sifat kimia pupuk sangat menentukan berapa kandungan hara yang terkandung dalam suatu pupuk, semakin banyak kandungan unsur hara yang terkandung dalam suatu pupuk, maka semakin besar kemampuan pupuk tersebut untuk meningkatkan kesuburan tanah.
2.      Pemberian pupuk dalam tanah harus disesuaikan dengan Ph dari pupuk tersebut. Pada tanah yang bersifat masam jangan diberikan pupuk yang bersifat masam juga, karena hal itu akan mengakibatkan keracunan bagi tanaman.










IV.             PENCAMPURAN PUPUK
A.    Tujuan
Membuat 50 gram pupuk campuran dengan komposisi Urea, SP-36, KCl, dan abu dengan perbandingan 12 : 11 : 8.

B.     Dasar Teori
Jenis tanah yang ada di alam mempunyai kemampuan yang sangat beranakaragam dalam memberikan persediaan hara yang dapat digunakan tanaman dan kebutuhan mineral tanam-tanaman yang berbeda juga cukup beranekaragam. Usaha untuk mengatasi kekurangan hara dalam tanah dan memenuhi berbagai kebutuhan tanaman tentang unsur hara tidak hanya terbatas pada satu jenis unsur saja, akan tetapi perlu berbagai jenis unsur hara dalam mendukung pertumbuhannya. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan pencampuran pupuk. Pupuk hasil campuran ini disebut pupuk campuran dan dibuat dengan mencampur dua pembawa pupuk yang terpisah atau lebih. (Foth, 1994)
Pembuatan pupuk campuran memerlukan penyiapan bahan berupa pupuk buatan atau pupuk alami. Penyiapan pupuk campuran dapat merupakan pekerjaan yang relatif sederhana, terutama apabila campuran itu berupa tingkatan rendah (pupuk yang mengandung persentase hara yang komparatif rendah). dasar dari pencampuran pupuk adalah pencampuran pencampuran bahan-bahan yang sesuai dalam perbandingan yang benar untuk memberi tingkatan atau analisis yang dikehendaki. Tingkat pupuk atau analisis terjamin menyatakan kandungan hara. Semua keadaan tingkat itu dinyatakan dalam urutan NPK, tetapi maksud perhitungan jumlah hara tanaman pada dasarnya N-P2O5-K2O. Nitrogen total dinyatakan sebagai unsur Nitrogen (N), fosfor dinyatakan sebagai P2O5 yang dapat digunakan dan kalium diberikan sebagai K2O yang larut air. (Foth, 1994)
Kegiatan pembuatan pupuk campuran perlu memperhatikan banyaknya pembawa yang diperlukan. Banyaknya bobot pembawa dapat dihitung dengan rumus :
keterangan  : X = bobot pembawa yang diperlukan.
                     A = bobot campuran pupuk myang diperlukan.
                     B = prosentase pupuk tertentu yang dikehendaki dalam campuran.
                     C = prosentase pupuk tertentu dalam pembawa.
Sifat pupuk yang akan dicampur harus benar-benar diperhatikan, karena berkaitan dengan daya simpan pupuk campuran tersebut. Dosis unsur hara yang terkandung dalam pupuk sangat menentukan besarnya pembawa yang diperlukan dalam pencampuran. Sebagai contoh bila menginginkan N sebesar 46 % maka harus dengan  Urea bukan pakai ZA, karena ZA hanya mempunyai kadar N sebesar 20,5- 21 %. Bahan-bahan yang akan dicampur perlu disesuaikan dengan keadaan tanah yang akan dipupuk, bila tanah terlalu asam jangan diberi pupuk campuran yang mengandung ZA, karena ZA bersifat mengasamkan tanah. Prinsip dasar untuk membuat pupuk campuran yang baik adalah tepat bahan, tepat dosis dan tepat cara pencampuran.

C.    Alat dan Bahan
Alat    : a. kantong plastik.
                    b. timbangan analitis/ timbanang digital.
                    c. alat hitung.
Bahan : a. KCl.
                     b. Urea.
                     c. SP-36.
                     d. Abu gosok.

D.    Prosedur Kerja
1.       Berat masing-masing pupuk yang dibutuhkan dihitung menggunakan rumus :
Keterangan :  Bx   =  unsur N
                       Y    =  besar perbandingan dalam pupuk NPK 
                       Z     =  berat pupuk campuran yang akan dibuat
                       W    =  prosentase unsur dalam pembawa (pupuk tunggal)
                       A    =  berat pupuk yang dibutuhkan
2.       Masing-masing pupuk ditmbang dengan timbangan digital sesuai perhitungan nomor 1.
3.       Pupuk yang tekah ditimbang dimasukkan ke dalam kanting plaastik dan dikocok aagar bercampur dengan sempurna.
4.       Diamati warna yang dominan, fase dan bentuk yang nampak pada pencampuran tadi.

E.     Hasil dan Pembahasan
Hasil :
Ø  Urea = 45 % N
Jumlah urea = 13,33 gram
Ø  KCl = 55 % K2O
Jumlah KCl = 7,273 gram
Ø  SP – 36 36 % P2O5
Jumlah SP – 36 = 15,278 gram
Ø  N + P + K = 50 gram
13,33 + 15,28 + 7,27 + abu = 50 gram
Abu = 14,12 gram
                                                   
Pembahasan :
Praktikum pembuatan pupuk campuran ini menggunakan pupuk buatan berupa Urea, KCl, SP-36, dan Abu gosok. Masing-masing pupuk yang digunakan mempunyai kadar unsur dan sifat yang berbeda, hal tersebut dapat dilihat pada uraian berikut :
1.      Urea
Menurut Hardjowigeno (1987), Urea mempunyai ciri-ciri, antara lain :
a.      Berbentuk kristal berwrna putih atau butir-butir bulat.
b.     Kadar N ± 45 %- 46 %.
c.      Higroskopis, sudah mulai menarik uap air pada kelembaban nisbi udara 73 %.
d.     Reaksi fisiologis agak masam dengan ekivalen kemasaman 80 (tidak terlalu mengasamkan tanah).
e.      Proses hidrolisis berjalan cepat bila diberikan ke dalam tanah sehingga mudah menguap sebagai Amonia.
2.      SP-36
SP-36 merupakan salah satu pupuk phospor yang banyak beredar di pasaran. Ciri-ciri pupuk ini antara lain :
a.      Mempunyai kadar P2O5 ± 36 %.
b.     Berwarna abu-abu, dan berbentuk granuler.
c.      Keras, sehingga sulit terurai.
3.      Kalium klorida (KCl)
Kalium klorida atau  muriate of pocash merupakan salah satu pupuk K yang banyak digunakan oleh petani secara umum. KCl yang beredar di pasaran ada 2 macam :
¡  KCl 80 mengandung 52 %- 53 % K2O.
¡  KCl 90 mengandung 55 %- 58 % K2O.
Berdasarkan hasil perhitungan, Urea yang dibutuhkan dalam pembuatan pupuk campuran ini adalah sebesar 13,33 gram. Penggunaan Urea dalam pembuatan pupuk campuran mempunyai beberapa kelemahan yaitu pupuk campuran menjadi tidak tahan lama (mudah rusak). Hal ini dikarenakan Urea mempunyai sifat higoskopis yang tinggi. Umumnya kebutuhan N dalam pembuatan pupuk campuran dipenuhi dengan Zwavelzare Amonia (ZA), akan tetapi akan menyebabkan tanah menjadi asam. Untuk itu aplikasi ZA harus diimbangi dengan pengapuran.
Pupuk SP-36 yang diperlukan dalam pembuatan pupuk campuran ini adalah sebesar 15,278 gram. Sifat keras dari SP-36 menyebabkan unsur P tersedia agak lama, untuk itu pupuk campuran diaplikasikan pada saat masa tanam. Hal ini telah disesuaikan dengan massa kebutuhan tiap unsur. Unsur P diperlukan untuk kegiatan Biokimia dalam sel hidup, ikatan Aderosin triphospat (ATP) yang berenergi tinggi mnelepaskan energi untuk kegiatan bila diubah menjadi aderosin diphospat (ADP). Pemberian phospor pada suatu tanah atau areal  pertanaman harus disesuaikan dengan jenis dan kondisi tanah tersebut, hal ini berkaitan dengan agen-agen penjerap. Tanah-tanah muda yang kebanyakan phospornya terikat dalam Kalsium fosfat mempunyai forfor yang tersedia lebih banyak dari pada tanah tropika yang saangat terkikis dalam hal ini Oksisol (Foth, 1994).
Pupuk KCl yang digunakan dalam pembuatan pupuk campuran ini berupa KCl 90 dengan kadar K2O sebesar 55 %, sehingga KCl yang diperlukan dalam pembuatan ini adalah sebesar 7, 273 gram. KCl yang digunakan berwarna merah dalam bentuk kristal kecil.
Unsur K sangat diperlukan untuk lahan basah. Pencucian di kawasan basah menghilangkan Kalium tersedia dan menciptakan keperluan akan pupuk Kalium bila dikehendaki hasil-hasil panen yang sedang atau tinggi. Untur K juga sangat diperlukan untuk tanah-tanah organik. Tanah organik terkenal miskin akan Kalium karena tanah organik mengandung sedikit mineral yang mengandung Kalium. Pada dasarnya, Kalium di dalam tanah berada dalam mineral yang melapuk dan melepaskan ion-ion Kalium (Foth,1994).
Bahan lain yang digunakan pada pembuatan pupuk campuran ini adalah abu gosok. Salah satu alasan penggunaan abu gosok adalah abu hasil pembakaran banyak mengandung unsur hara terutama Kalium. Selain banyak hara yang dibutuhkan tanaman, harga dari abu gosok sangat murah. Abu yang dibutuhkan untuk pembuatan pupuk campuran kali ini adalah 14,12 gram. Berat abu yang diperlukan diperoleh dengan mengurangakan bobot pupuk campuran yang akan dibuat dengan bobot Urea, KCl, dan SP-36.
Hasil pengamatan pupuk campuran yang terbentuk, warna dominan adalah abu-abu. Hal ini sangat dipengaruhi oleh banyaknya abu yang dipergunakan. Abu yang digunakan hanya 14,112 gram, tetapi bobot abu sangat ringan, sehingga sangat banyak. Warna abu-abu juga didukung oleh SP- 36 yang berwarna abu-abu. Urea yang berwarna putih hampir tidak kelihatan karena Urea terselimuti abu, hal ini berkaitan dengan sifat higroskopis Urea.
Fase pupuk campuran adalah padat. Pupuk campuran yang terbentuk tidak menghasilkan air dan kering. Bentuk pupuk yang dihasilkan berupa serbuk dengan binti-bintil gumpalan (sedikit).
Aplikasi pupuk campuran di lapang sebaiknya pada saat tanam. Hal ini berkaitan dengan pnguraian unsur yang ada. Unsur N dari Urea akan cepat tersedia. Unsur ini banyak dibutuhkan untuk pertumbuhan vegetatifnya. Sedangkan unsur K dan  P lambat tersedia, unsur ini berfungsi untuk pertumbuhan generatif tanaman.


               
F.     Kesimpulan
1.       Banyaknya Urea, SP-36, KCl dan Abu gosok yang dibutuhkan dalam pembuatan pupuk campuran sebanyak 50 gram masing-masing adalah 13,33 gram, 15,278 gram 17,273 gram, 14,12 gram.
2.       Pupuk campuran yang dihasilkan mempunyai ciri-ciri :
a)       Warna dominan = abu-abu.
b)       Fase = padat.
c)       Bentuk = serbuk.




DAFTAR PUSTAKA


Buckman, Harry O. 1982. Ilmu Tanah. Bharata Karya Aksara, Jakarta

Foth D. Henry, 1988. Dasar-dasar Ilmu Tanah. UGM-Press, Yogyakarta.


Foth D. Henry, 1994. Fundamental Of Soil Science. Sixth edition terjemahan oleh Soenartono Adi Soemarto. PT Gelora Aksara Pratama, Jakarta.


Harbowigeno, S. 1987. Ilmu Tanah. PT Meditama Sarana Perkasa, Jakarta.


Hardjodinomo, Soekirno. 1970. Ilmu Memupuk. Binacipta, Jakarta


Lingga P dan Marsono. 2000. Petunjuk Penggunaan Pupuk (edisi revisi). Penyebar Swadaya, Jakarta.

Mas’ud, Poerwidodo. 1995. Telaah Kesuburan Tanah. Penerbit Angkasa, Bandung


Sarief, E.S. 1986.  Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana, Bandung.

Sutedjo, Mul Mulyani. 1987. Pupuk dan Cara Pemupukan. PT. Rineka Cipta, Jakarta















Yоur ωrite-up featuгеs рroven helpful to mе.
ӏt’s quite useful and you reallу are сleaгly quite expеrienced in this regiоn.

Υou possess pοpped my persοnal еye to be
able tο dіfferent ѵiеωs on this specific subject matter uѕing intrіguing and ѕolіd content.
My website ; buy Klonopin

Isi masih berantakan harap maklum

Entri Populer